Setiap kali menjelang Ramadhan, satu pertanyaan yang selalu menjadi topik berulang di ruang publik: “Kapan 1 Ramadhan jatuh?”

Sebagian besar masyarakat Indonesia menunggu pemunguman dari pemerintah, tapi juga sebagian mengacu pada organisasi keagamaan. Bertahun-tahun perbedaan tersebut selalu muncul, kita kembali bertanya: “mengapa dalam 1 agama ada puasa yang lebih dulu dan ada yang menyusul besok?”

Jawabannya tidak hanya tentang metode melihat hilal, tetapi juga berakar satu persoalan mendasar: manusia tidak benar-benar bisa memahami waktu, waktu merupakan sesuatu yang kita rasakan setiap hari, tetapi tidak penar benar-benar kita kuasai.

 

Manusia Yang Terbatas Menghadapi Waktu Yang Tak Terbatas

Dalam kajian menjelang Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dengan mengusung tema “Ramadhan Sebagai Ruang Tranformatif” yang disampaikan oleh Dr. KH. Tafsir, M.Ag. disampaikan bahwasannya manusia hidup dalam waktu yang terbatas, sedangkan waktu dalam memiliki makna hakiki yang bersifat tak terbatas.

Ada dua cara memandang waktu:

  1. Waktu seri

Waktu seri merupakan waktu yang kita pakai sehari-hari yang dapat dihitung, diukur, dan dijadwalkan, seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun.

  1. Waktu murni

Waktu murni merupakan waktu yang melampaui perhitungan manusia. Waktu murni tidak berdasarkan kalender ataupun jam dinding, sehingga manusia tidak pernah benar-benar bisa menjangkaunya.

Cara memandang waktu inilah letak persoalannya. Ibadah ditentukan oleh waktu, tetapi manusia hanya dapat membaca waktu dengan keterbatasan alat dan metode. Oleh sebab dari itu, para ulama dan organisasi berbeda-beda dalam menentukan 1 Ramadhan. Hal tersebut bukan karena kebenaran agama yang berubah-ubah, melainkan keterbatasan manusia dalam menafsirkan tanda-tanda waktu yang tak pernah dikuasai sepenuhnya.

Perbedaan awal Ramadhan yang sering terjadi di Indonesia berakar pada perbedaan filosofis, bagaimana cara manusia membaca tanda waktu melalui alat dan metode yang terbatas. Dalam agama islam, satu bulan hanya ada dua kemungkinan, yaitu 29 hari atau 30 hari. Tanggal 1 ditandai ketika hilal tampak di atas ufuk berapapun derajatnya. Namun, kapan disebut “tampak” itulah yang dibaca secara berbeda.

Keputusan para ulama yang berbeda-beda tidak lahir untuk saling menentang, perbadaan waktu lahir dari ikhtiar keilmuan. Mengapa perbedaan ini terus terjadi dikarenakan umat islam tidak memiliki kepemimpinan sentral global untuk menyatukan seluruh keputusan fiqih. Maka dari itu, perbedaan bukanlah penyimpangan, tetapi realitas sejarah.

 

Puasa Ramadhan Sebagai Proses Sosial, Bukan Sekedar Menahan Lapar

Ramadhan disebut sebagai bulan tranformasi, bukan hanya persoalan menahan lapar dan haus, tetapi tentang proses penyucian. Puasa merupakan ibadah sosial juga yang bagaimana cara seseorang menahan diri dari tutur kata yang menyakiti. Puasa juga bukan ibadah pasif yang dijadikan alasan untuk memperbanyak tidur. Puasa adalah ibadah yang mengurangi makan, minum, tidur, bahkan syahwat supaya ruang batin kembali menjadi lapang.

Dalam jadwal imsakiyah di Indonesia, kita mengenal dua waktu, yaitu imsak dan subuh. Secara fiqih, awal puasa dimulai sejak terbitnya fajar (subuh). Adapun imsak yang ditulis lebih awal untuk kehati-hatian, bukan waktu wajib untuk mulai puasa.

 

Ramadhan Sebagai Ruang Transformatif

            Perbedaan awal Ramadhan berbeda bukan bencana dari iman. Tetapi, yang menjadi masalah ketika perbedaan itu dijadikan cemooh, sindiran, dan saling merendahkan. Ramadhan bukan perlombaan untuk memulai lebih cepat puasa, melainkan perjalanan untuk pulang menjadi manusia yang lebih jujur pada dirinya sendiri. Ramadhan merupakan ruang transformatif yang bukan hanya mengubah jadwal makan, tetapi juga mengubah cara kita memandang orang lain.

Perbedaan awal Ramadhan mengajarkan kita satu hal, yakni kerendahan hati.
Bahwasannya dalam urusan waktu untuk ibadah, manusia selalu berada di hadapan keterbatasannya sendiri. Perbedaan inilah justru letak makna Ramadhan: belajar menerima bahwa kita tidak pernah sepenuhnya tahu, tetapi tetap memilih untuk taat beribadah.