Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta kembali menyelenggarakan Kuliah Dzuhur pada Senin, 22 Desember 2025. Kuliah Dzuhur kali ini disampaikan oleh Prof. Dr. Mufdlilah, S.SiT., M.Sc., dengan pembahasan seputar nilai-nilai perempuan berkemajuan dalam perspektif Islam serta relevansinya dengan kondisi kebencanaan dan tantangan sosial saat ini.

Dalam penyampaiannya, Prof. Dr. Mufdlilah menekankan pentingnya membangun nilai keislaman yang kuat sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, khususnya yang berkaitan dengan peran dan kondisi perempuan. Beliau mengaitkan hal tersebut dengan empat gerakan ‘Aisyiyah yang menjadi ciri gerakan Islam berkemajuan dan tajdid, termasuk upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

Khatib Kuliah Dzuhur menjelaskan bahwa gerakan perempuan berkemajuan memiliki sejumlah indikator penting. Di antaranya adalah penguatan iman dan ketakwaan, ketaatan dalam beribadah, pembentukan akhlakul karimah, serta pengamalan amal saleh yang nyata dalam kehidupan sosial. Amal saleh tersebut, menurut beliau, harus diwujudkan dalam bentuk empati dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada saudara-saudara yang terdampak musibah dan bencana.

Selain itu, Prof. Dr. Mufdlilah juga menyoroti pentingnya sikap wasathiyah, pemikiran tajdid yang adaptif, serta sikap inklusif dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap inklusif ini, menurut beliau, telah tercermin dalam komitmen UNISA yang terbuka bagi mahasiswa lintas latar belakang, termasuk mahasiswa nonmuslim dan penyandang disabilitas, sebagai wujud nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dalam konteks kebencanaan, beliau mengajak jamaah untuk lebih peka terhadap kebutuhan spesifik perempuan, khususnya terkait kebersihan diri dan kesehatan reproduksi. Kondisi darurat seperti banjir dan keterbatasan air bersih dapat berdampak serius bagi perempuan, terutama yang sedang berada dalam fase biologis tertentu. Oleh karena itu, dukungan yang adaptif dan berperspektif gender menjadi hal yang sangat penting.

Tidak hanya perempuan, perhatian terhadap tumbuh kembang anak juga menjadi sorotan dalam Kuliah Dzuhur tersebut. Prof. Dr. Mufdlilah mengingatkan pentingnya pemenuhan gizi yang baik, khususnya pemberian Air Susu Ibu (ASI), di tengah situasi darurat. Stres yang dialami ibu dalam kondisi bencana perlu mendapatkan pendampingan agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga.

Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya memperhatikan aspek kehalalan dan kebaikan makanan sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an. Makanan yang halal dan baik tidak hanya berdampak pada kesehatan jasmani, tetapi juga berpengaruh pada kualitas ibadah dan kesucian jiwa seseorang.

Menutup Kuliah Dzuhur, Prof. Dr. Mufdlilah berharap agar nilai-nilai Islam yang integratif—meliputi aspek spiritual, moral, dan kesehatan—dapat terus diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Jamaah diajak untuk terus bersyukur, meningkatkan kepedulian sosial, serta mendoakan saudara-saudara yang sedang tertimpa musibah agar segera bangkit dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.