{"id":1781,"date":"2026-03-05T10:31:34","date_gmt":"2026-03-05T03:31:34","guid":{"rendered":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/?p=1781"},"modified":"2026-03-05T10:57:52","modified_gmt":"2026-03-05T03:57:52","slug":"seni-meraih-kebahagian-hakiki-di-era-modernitas-dengan-menghidupi-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/?p=1781","title":{"rendered":"Seni Meraih Kebahagian Hakiki di Era Modernitas Dengan Menghidupi Agama"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding=&#8221;0px||0px||false|false&#8221; custom_margin=&#8221;0px||||false|false&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_row _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; custom_margin=&#8221;0px||||false|false&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_column _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; type=&#8221;4_4&#8243;][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p>Ummu Hani Edi Nawangsih, M.Kes. alumni dosen Unisa<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section][et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_margin=&#8221;0px||||false|false&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;]<\/p>\n<p><strong>YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- <\/strong>Di era kemajuan zaman yang serba cepat, definisi kebahagiaan sering kali mengalami restriksi makna. Banyak yang terbelenggu dalam sudut pandang bahwa definisi bahagia adalah akumulasi dari angka-angka: banyaknya saldo rekening, deret gelar akademik, hingga tingginya posisi dalam struktur sosial. Namun, dalam sebuah Kuliah Ramadhan 1447 H yang bertepatan pada 04 Maret 2026, Dra. Ummu Hani Edi Nawangsih, M.Kes. yang merupakan alumni dosen Unisa dan telah mengabdi 37 tahun membedah konsep yang bertema <strong>&#8220;Berbahagia dengan Menghidupi Agama.&#8221;<\/strong><\/p>\n<p><strong>Antara Kesenangan Duniawi dan Kebahagiaan Sesungguhnya<\/strong><\/p>\n<p>Dra. Ummu Hani mengawali paparannya dengan sebuah fakta realitas sosiologis bahwa ragam kebahagiaan manusia memang berbeda-beda. Ada yang merasa cukup dengan terpenuhinya kebutuhan materi, ada pula yang merasa bahagia setelah menuntaskan pendidikan tinggi. Tetapi, ia menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, kebahagiaan semacam itu sering kali hanya bersifat duniawi jika tidak dilandasi dengan iman. Kebahagiaan yang hakiki adalah bahagia yang mendapatkan <strong>ketenangan jiwa (<em>tumaninah<\/em>)<\/strong>. Ketenangan ini tidak lahir dari ketiadaan masalah, melainkan dari kedalaman iman, ketekunan ibadah, dan keseimbangan hidup. Pada titik inilah letak urgensi &#8220;menghidupi agama&#8221;. Menghidupi agama berarti menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai kekuatan penggerak untuk meraih kebahagiaan hakiki dengan iman.<\/p>\n<p><strong>Sinergi Hablumminallah dan Hablumminannas<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu poin krusial dalam Kuliah Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa Dra. Ummu yang memiliki peran penting dalam Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) adalah keseimbangan antara hubungan kepada Allah (<em>Hablumminallah<\/em>) dan hubungan kepada sesama manusia (<em>Hablumminannas<\/em>). Ia mengingatkan bahwa kesalehan seorang Muslim tidak boleh sebatas dengan <em>hablumminallah<\/em>, tetapi harus seimbang dengan <em>hablumminannas<\/em>.<\/p>\n<p>&#8220;Jika kita hidup di kampung, maka menghidupi agama berarti aktif dalam bakti sosial, kerja bakti, hingga memiliki kepedulian tinggi untuk menjenguk tetangga yang sakit,&#8221; ujar aktivis senior di Pimpinan Pusat \u2018Aisyiyah pada 04 Maret 2026.<\/p>\n<p>Hal ini sesuai dengan hadis nabi <em>Khoirunnas anfa\u2019uhum linnas<\/em>, yakni manusia terbaik adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi lingkungannya. Agama hadir bukan untuk memisahkan manusia dari dunianya, melainkan untuk memberikan warna pada interaksi sosial agar bernilai ibadah.<\/p>\n<p><strong>Lima Pilar Menuju Kebahagiaan Hakiki<\/strong><\/p>\n<p>Dra. Ummu Hani merinci langkah strategis untuk meraih kebahagiaan tersebut melalui lima aspek utama:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Dzikir yang Berkelanjutan:<\/strong> Mengingat Allah adalah obat bagi hati yang gelisah (QS. Ar-Ra&#8217;d).<\/li>\n<li><strong>Sabar dan Ridha:<\/strong> Sabar saat diuji dengan kesusahan ataupun dengan kemewahan tetap rendah hati, dan ridha terhadap setiap ketetapan Allah. Ini merupakan benteng pertahanan mental agar manusia tidak mudah putus asa.<\/li>\n<li><strong>Kesyukuran Tanpa Syarat:<\/strong> Mengutip dari QS. Ibrahim ayat 7, rasa syukur merupakan kunci bertambahnya nikmat dan obat dari penyakit serakah.<\/li>\n<li><strong>Kehidupan yang Seimbang:<\/strong> Menyeimbangkan antara doa (spiritual) dan kerja keras mencari rezeki yang halal (material).<\/li>\n<li><strong>Menuntut Ilmu:<\/strong> Merujuk pada QS. Al-Mujadalah, beliau menegaskan bahwa ilmu adalah kunci ketaqwaan dan sarana Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Konsep &#8220;Mampir Ngombe&#8221; dan Doa Sapu Jagad<\/strong><\/p>\n<p>Di bagian penutup, Dra. Ummu Hani menyampaikan refleksi mengenai hakikat waktu. Ia mengutip pepatah Jawa yang menyebut hidup hanyalah sebatas <em>mampir ngombe<\/em> (singgah untuk minum). Akademisi pada bidang kesehatan menganalogikan bahwa satu jam di akhirat mungkin setara dengan ratusan tahun di dunia. Dengan waktu yang sangat singkat ini, tidak ada kekuasaan yang sebenarnya selain keridhaan Allah. Ia menganjurkan jamaah untuk senantiasa mengamalkan &#8220;Doa Sapu Jagad&#8221;, memohon kebaikan di dunia dan akhirat kelak. Sebab, kebahagiaan hakiki tidak hanya tentang apa yang didapatkan hari ini, melainkan tentang ketenangan saat kembali ke hadapan Allah SWT kelak. <strong>(puji).<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-1770\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/MWD00994-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"193\" height=\"109\" \/> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-1771\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/MWD00975-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"192\" height=\"108\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<div class=\"et_pb_module et_pb_text et_pb_text_2  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light\">\n<div class=\"et_pb_text_inner\">\n<div class=\"et_pb_module et_pb_text et_pb_text_1  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light\">\n<div class=\"et_pb_text_inner\">\n<p>Saksikan video lengkap melalui tautan berikut:<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"et_pb_module et_pb_text et_pb_text_3  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light\">\n<div class=\"et_pb_text_inner\"><\/div>\n<\/div>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Kuliah Ramadhan Hari Ke- 16 | Penceramah : Dra. Ummu Hani,EN, M.Kes\" width=\"1080\" height=\"608\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/aByY8hkVXCk?feature=oembed\"  allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ummu Hani Edi Nawangsih, M.Kes. alumni dosen UnisaYOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- Di era kemajuan zaman yang serba cepat, definisi kebahagiaan sering kali mengalami restriksi makna. Banyak yang terbelenggu dalam sudut pandang bahwa definisi bahagia adalah akumulasi dari angka-angka: banyaknya saldo rekening, deret gelar akademik, hingga tingginya posisi dalam struktur sosial. Namun, dalam sebuah Kuliah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1782,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"<strong>YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- <\/strong>Di era kemajuan zaman yang serba cepat, definisi kebahagiaan sering kali mengalami restriksi makna. Banyak yang terbelenggu dalam sudut pandang bahwa definisi bahagia adalah akumulasi dari angka-angka: banyaknya saldo rekening, deret gelar akademik, hingga tingginya posisi dalam struktur sosial. Namun, dalam sebuah Kuliah Ramadhan 1447 H yang bertepatan pada 04 Maret 2026, Dra. Ummu Hani Edi Nawangsih, M.Kes. yang merupakan alumni dosen Unisa dan telah mengabdi 37 tahun membedah konsep yang bertema <strong>\"Berbahagia dengan Menghidupi Agama.\"<\/strong>\r\n\r\n<strong>Antara Kesenangan Duniawi dan Kebahagiaan Sesungguhnya<\/strong>\r\n\r\nDra. Ummu Hani mengawali paparannya dengan sebuah fakta realitas sosiologis bahwa ragam kebahagiaan manusia memang berbeda-beda. Ada yang merasa cukup dengan terpenuhinya kebutuhan materi, ada pula yang merasa bahagia setelah menuntaskan pendidikan tinggi. Tetapi, ia menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, kebahagiaan semacam itu sering kali hanya bersifat duniawi jika tidak dilandasi dengan iman. Kebahagiaan yang hakiki adalah bahagia yang mendapatkan <strong>ketenangan jiwa (<em>tumaninah<\/em>)<\/strong>. Ketenangan ini tidak lahir dari ketiadaan masalah, melainkan dari kedalaman iman, ketekunan ibadah, dan keseimbangan hidup. Pada titik inilah letak urgensi \"menghidupi agama\". Menghidupi agama berarti menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai kekuatan penggerak untuk meraih kebahagiaan hakiki dengan iman.\r\n\r\n<strong>Sinergi Hablumminallah dan Hablumminannas<\/strong>\r\n\r\nSalah satu poin krusial dalam Kuliah Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa Dra. Ummu yang memiliki peran penting dalam Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) adalah keseimbangan antara hubungan kepada Allah (<em>Hablumminallah<\/em>) dan hubungan kepada sesama manusia (<em>Hablumminannas<\/em>). Ia mengingatkan bahwa kesalehan seorang Muslim tidak boleh sebatas dengan <em>hablumminallah<\/em>, tetapi harus seimbang dengan <em>hablumminannas<\/em>.\r\n\r\n\"Jika kita hidup di kampung, maka menghidupi agama berarti aktif dalam bakti sosial, kerja bakti, hingga memiliki kepedulian tinggi untuk menjenguk tetangga yang sakit,\" ujar aktivis senior di Pimpinan Pusat \u2018Aisyiyah pada 04 Maret 2026.\r\n\r\nHal ini sesuai dengan hadis nabi <em>Khoirunnas anfa\u2019uhum linnas<\/em>, yakni manusia terbaik adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi lingkungannya. Agama hadir bukan untuk memisahkan manusia dari dunianya, melainkan untuk memberikan warna pada interaksi sosial agar bernilai ibadah.\r\n\r\n<strong>Lima Pilar Menuju Kebahagiaan Hakiki<\/strong>\r\n\r\nDra. Ummu Hani merinci langkah strategis untuk meraih kebahagiaan tersebut melalui lima aspek utama:\r\n<ol>\r\n \t<li><strong>Dzikir yang Berkelanjutan:<\/strong> Mengingat Allah adalah obat bagi hati yang gelisah (QS. Ar-Ra'd).<\/li>\r\n \t<li><strong>Sabar dan Ridha:<\/strong> Sabar saat diuji dengan kesusahan ataupun dengan kemewahan tetap rendah hati, dan ridha terhadap setiap ketetapan Allah. Ini merupakan benteng pertahanan mental agar manusia tidak mudah putus asa.<\/li>\r\n \t<li><strong>Kesyukuran Tanpa Syarat:<\/strong> Mengutip dari QS. Ibrahim ayat 7, rasa syukur merupakan kunci bertambahnya nikmat dan obat dari penyakit serakah.<\/li>\r\n \t<li><strong>Kehidupan yang Seimbang:<\/strong> Menyeimbangkan antara doa (spiritual) dan kerja keras mencari rezeki yang halal (material).<\/li>\r\n \t<li><strong>Menuntut Ilmu:<\/strong> Merujuk pada QS. Al-Mujadalah, beliau menegaskan bahwa ilmu adalah kunci ketaqwaan dan sarana Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya.<\/li>\r\n<\/ol>\r\n<strong>Konsep \"Mampir Ngombe\" dan Doa Sapu Jagad<\/strong>\r\n\r\nDi bagian penutup, Dra. Ummu Hani menyampaikan refleksi mengenai hakikat waktu. Ia mengutip pepatah Jawa yang menyebut hidup hanyalah sebatas <em>mampir ngombe<\/em> (singgah untuk minum). Akademisi pada bidang kesehatan menganalogikan bahwa satu jam di akhirat mungkin setara dengan ratusan tahun di dunia. Dengan waktu yang sangat singkat ini, tidak ada kekuasaan yang sebenarnya selain keridhaan Allah. Ia menganjurkan jamaah untuk senantiasa mengamalkan \"Doa Sapu Jagad\", memohon kebaikan di dunia dan akhirat kelak. Sebab, kebahagiaan hakiki tidak hanya tentang apa yang didapatkan hari ini, melainkan tentang ketenangan saat kembali ke hadapan Allah SWT kelak. <strong>(puji).<\/strong>\r\n\r\n<img class=\"alignnone  wp-image-1770\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/MWD00994-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"193\" height=\"109\" \/> <img class=\"alignnone  wp-image-1771\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/MWD00975-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"192\" height=\"108\" \/>\r\n\r\n&nbsp;","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[21,19],"tags":[],"hashtags":[],"class_list":["post-1781","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliah-kebangsaan","category-ramadhan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1781","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1781"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1781\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1789,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1781\/revisions\/1789"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1782"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1781"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1781"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1781"},{"taxonomy":"hashtags","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fhashtags&post=1781"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}