{"id":1845,"date":"2026-03-08T08:50:18","date_gmt":"2026-03-08T01:50:18","guid":{"rendered":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/?p=1845"},"modified":"2026-03-09T08:58:18","modified_gmt":"2026-03-09T01:58:18","slug":"membangun-kembali-persatuan-bangsa-di-tengah-badai-disrupsi-dengan-merawat-keberagaman-dan-menguatkan-persatuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/?p=1845","title":{"rendered":"Membangun Kembali Persatuan Bangsa di Tengah Badai Disrupsi Dengan Merawat Keberagaman dan Menguatkan Persatuan"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_row _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_column _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; type=&#8221;4_4&#8243;][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p>Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section][et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221; _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;]<\/p>\n<p><strong>YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- <\/strong>&#8220;Dunia saat ini sedang dihadapkan pada silang sengkarut terbengkalai yang tak karu-karuan,&#8221; tutur Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. yang merupakan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam mengawali Kuliah Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa dengan tema <strong>\u201cMerawat Keberagamam, Menguatkan Persatuan: Jalan Kebangsaan Di Era Perubahan\u201d<\/strong>. Di sela-sela kekhidmatan Kuliah Ramadhan pada 07 Maret 2026 bertepatan 18 Ramadhan 1447 Hijriah, Guru Besar pada bidang Sosiologi ini menyampaikan pesan kebangsaan yang krusial: bagaimana menjaga persatuan di tengah kekacauan dunia dan perubahan yang cepat. Zuly mengajak jamaah untuk menelusuri kedalaman pikiran, mulai dari kritik terhadap kebijakan pemimpin dunia hingga esensi terdalam dari identitas sebagai Warga Negara Indonesia.<\/p>\n<p><strong>Kekhawatiran di Era Disrupsi Digital: Antara Banjir Informasi dan Keringnya Nilai<\/strong><\/p>\n<p>Pakar studi Radikalisme dan Perdamaian ini menyoroti fenomena &#8220;<em>New Normal<\/em>&#8221; yang dipengaruhi oleh era disrupsi. Mengutip pemikiran Francis Fukuyama, ia memaparkan bagaimana dinamika mobilitas manusia yang luar biasa kini menciptakan apa yang disebut sebagai <em>global citizenship<\/em>. Tetapi, kemajuan ini menyisakan celah yang mencemaskan, yaitu hilangnya kedalaman interaksi dengan sesama manusia. Sorotan utama itu tertuju pada dunia pendidikan. Aktivis di Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) ini menyampaikan bahawa pendidikan bukan hanya sekadar urusan logistik atau teknis.<\/p>\n<p><em>&#8220;Transfer of knowledge (transfer ilmu) mungkin bisa dilakukan 70% melalui daring. Tetapi, transfer of value (transfer nilai) dan etika nyaris mustahil dilakukan tanpa kehadiran fisik. Bagaimana kita bisa merasakan getaran iman dan resonansi jiwa jika hanya menatap layar monitor yang kameranya seringkali dimatikan?&#8221;<\/em> tanya Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat Kuliah Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa pada 07 Maret 2026.<\/p>\n<p><strong>Teologi Inklusif: Rumusan Q.S Al-Hujurat untuk Kerukunan di Era Disrupsi<\/strong><\/p>\n<p>Menghadapi potensi perpecahan masyarakat, baik karena perbedaan awal Ramadhan maupun pilihan politik, Zuly Qodir menawarkan jalan pulang melalui <strong>Surah Al-Hujurat<\/strong>. Ia menekankan bahwa perbedaan ijtihad antara Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah merupakan bukti kekayaan intelektual Islam yang ilmiah, bukan alasan untuk saling menafikan identitas kebangsaan.<\/p>\n<p>Baginya, ayat ke-13 dalam surah Al-Hujurah merupakan mandat untuk membangun empati dan kepedulian sosial. Tuhan menciptakan manusia dengan bersuku-suku menunjukkan bahwa keragaman fisik dan etnis, mulai dari Jawa, Nusa Tenggara Timur, Papua, hingga Ambon, adalah konsep Tuhan supaya manusia saling mengenal (<em>lita\u2019arafu<\/em>), bukan untuk saling menghakimi. Dalam kamus Zuly Qodir, maksud dari mengenal berarti melahirkan empati yang melampaui prasangka fisik untuk menemukan kemanusiaan yang setara.<\/p>\n<p>Penutup dari tausiyah Zuly Qodir merupakan sebuah otokritik terhadap manifestasi &#8220;inferioritas&#8221; sebagian kalangan yang memandang bahwa luar negeri selalu lebih baik. Ia menekankan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat diberkati dengan modal sosial dan alam yang cukup luar biasa, yang hanya membutuhkan satu kunci utama untuk bangkit, yaitu <strong>Kejujuran.<\/strong><\/p>\n<p><em>&#8220;Kita tinggal di negara yang aman, di mana kita bisa tidur nyenyak tanpa suara dentuman bom. Masalah kita bukan pada ketersediaan sumber daya, tapi pada kejujuran dan integritas dalam mengelola nikmat ini,&#8221;<\/em> tutup Guru Besar pada bidang Sosiologi.<\/p>\n<p>Keberagaman suku, budaya, dan agama di Indonesia merupakan hal yang harus dijaga dari ideologi yang berlebihan, radikal, ataupun dari sesuatu yang dapat merusak persatuan dan perdamaian. Indonesia harus tetap menjadi negara yang <em>Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur<\/em> (negeri yang baik dan di bawah ampunan Tuhan), walaupun saat ini prosesnya masih penuh hambatan. <strong>(puji).<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1832\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-09-at-08.26.01-1-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p><span>Saksikan video lengkap melalui tautan berikut:<\/span><\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Kuliah Ramadhan Hari Ke 19 | Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag\" width=\"1080\" height=\"608\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/A2y9nzmjswo?feature=oembed\"  allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- &#8220;Dunia saat ini sedang dihadapkan pada silang sengkarut terbengkalai yang tak karu-karuan,&#8221; tutur Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. yang merupakan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam mengawali [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1833,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"<strong>YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- <\/strong>\"Dunia saat ini sedang dihadapkan pada silang sengkarut terbengkalai yang tak karu-karuan,\" tutur Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. yang merupakan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam mengawali Kuliah Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa dengan tema <strong>\u201cMerawat Keberagamam, Menguatkan Persatuan: Jalan Kebangsaan Di Era Perubahan\u201d<\/strong>. Di sela-sela kekhidmatan Kuliah Ramadhan pada 07 Maret 2026 bertepatan 18 Ramadhan 1447 Hijriah, Guru Besar pada bidang Sosiologi ini menyampaikan pesan kebangsaan yang krusial: bagaimana menjaga persatuan di tengah kekacauan dunia dan perubahan yang cepat. Zuly mengajak jamaah untuk menelusuri kedalaman pikiran, mulai dari kritik terhadap kebijakan pemimpin dunia hingga esensi terdalam dari identitas sebagai Warga Negara Indonesia.\r\n\r\n<strong>Kekhawatiran di Era Disrupsi Digital: Antara Banjir Informasi dan Keringnya Nilai<\/strong>\r\n\r\nPakar studi Radikalisme dan Perdamaian ini menyoroti fenomena \"<em>New Normal<\/em>\" yang dipengaruhi oleh era disrupsi. Mengutip pemikiran Francis Fukuyama, ia memaparkan bagaimana dinamika mobilitas manusia yang luar biasa kini menciptakan apa yang disebut sebagai <em>global citizenship<\/em>. Tetapi, kemajuan ini menyisakan celah yang mencemaskan, yaitu hilangnya kedalaman interaksi dengan sesama manusia. Sorotan utama itu tertuju pada dunia pendidikan. Aktivis di Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) ini menyampaikan bahawa pendidikan bukan hanya sekadar urusan logistik atau teknis.\r\n\r\n<em>\"Transfer of knowledge (transfer ilmu) mungkin bisa dilakukan 70% melalui daring. Tetapi, transfer of value (transfer nilai) dan etika nyaris mustahil dilakukan tanpa kehadiran fisik. Bagaimana kita bisa merasakan getaran iman dan resonansi jiwa jika hanya menatap layar monitor yang kameranya seringkali dimatikan?\"<\/em> tanya Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) saat Kuliah Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa pada 07 Maret 2026.\r\n\r\n<strong>Teologi Inklusif: Rumusan Q.S Al-Hujurat untuk Kerukunan di Era Disrupsi<\/strong>\r\n\r\nMenghadapi potensi perpecahan masyarakat, baik karena perbedaan awal Ramadhan maupun pilihan politik, Zuly Qodir menawarkan jalan pulang melalui <strong>Surah Al-Hujurat<\/strong>. Ia menekankan bahwa perbedaan ijtihad antara Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah merupakan bukti kekayaan intelektual Islam yang ilmiah, bukan alasan untuk saling menafikan identitas kebangsaan.\r\n\r\nBaginya, ayat ke-13 dalam surah Al-Hujurah merupakan mandat untuk membangun empati dan kepedulian sosial. Tuhan menciptakan manusia dengan bersuku-suku menunjukkan bahwa keragaman fisik dan etnis, mulai dari Jawa, Nusa Tenggara Timur, Papua, hingga Ambon, adalah konsep Tuhan supaya manusia saling mengenal (<em>lita\u2019arafu<\/em>), bukan untuk saling menghakimi. Dalam kamus Zuly Qodir, maksud dari mengenal berarti melahirkan empati yang melampaui prasangka fisik untuk menemukan kemanusiaan yang setara.\r\n\r\nPenutup dari tausiyah Zuly Qodir merupakan sebuah otokritik terhadap manifestasi \"inferioritas\" sebagian kalangan yang memandang bahwa luar negeri selalu lebih baik. Ia menekankan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat diberkati dengan modal sosial dan alam yang cukup luar biasa, yang hanya membutuhkan satu kunci utama untuk bangkit, yaitu <strong>Kejujuran.<\/strong>\r\n\r\n<em>\"Kita tinggal di negara yang aman, di mana kita bisa tidur nyenyak tanpa suara dentuman bom. Masalah kita bukan pada ketersediaan sumber daya, tapi pada kejujuran dan integritas dalam mengelola nikmat ini,\"<\/em> tutup Guru Besar pada bidang Sosiologi.\r\n\r\nKeberagaman suku, budaya, dan agama di Indonesia merupakan hal yang harus dijaga dari ideologi yang berlebihan, radikal, ataupun dari sesuatu yang dapat merusak persatuan dan perdamaian. Indonesia harus tetap menjadi negara yang <em>Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur<\/em> (negeri yang baik dan di bawah ampunan Tuhan), walaupun saat ini prosesnya masih penuh hambatan. <strong>(puji).<\/strong>\r\n\r\n<img class=\"alignnone size-medium wp-image-1832\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/WhatsApp-Image-2026-03-09-at-08.26.01-1-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" \/>\r\n\r\n&nbsp;","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[21,19],"tags":[],"hashtags":[],"class_list":["post-1845","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliah-kebangsaan","category-ramadhan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1845","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1845"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1845\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1851,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1845\/revisions\/1851"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1833"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1845"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1845"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1845"},{"taxonomy":"hashtags","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fhashtags&post=1845"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}