{"id":1858,"date":"2026-03-10T08:51:03","date_gmt":"2026-03-10T01:51:03","guid":{"rendered":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/?p=1858"},"modified":"2026-03-10T17:11:23","modified_gmt":"2026-03-10T10:11:23","slug":"sangkan-paraning-dumadi-dan-tauhid-membaca-ulang-falsafah-jawa-dalam-cahaya-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/?p=1858","title":{"rendered":"Sangkan Paraning Dumadi dan Tauhid: Membaca Ulang Falsafah Jawa dalam Cahaya Al-Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_row _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_column _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; type=&#8221;4_4&#8243;][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221;]<\/p>\n<p>Prof. Dr. Ir. Sukamta, M.T., IPU., ASEAN Eng, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Klaten<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section][et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221; _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding=&#8221;0px||||false|false&#8221; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;]<strong>YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa<\/strong> &#8211; Falsafah Jawa sejak lama dikenal memiliki banyak ungkapan yang menggambarkan pandangan hidup manusia tentang asal-usul, tujuan, serta perjalanan kehidupan. Dalam perspektif Islam, nilai-nilai tersebut dapat dipahami kembali melalui ajaran tauhid yang menegaskan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Hal tersebut disampaikan oleh <strong>Prof. Dr. Ir. Sukamta, M.T., IPU., ASEAN Eng<\/strong>, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Klaten, dalam <strong>Kuliah Tarawih Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Universitas \u2018Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Minggu, 9 Maret 2026 (20 Ramadhan 1447 H)<\/strong> dengan tema <strong>\u201cSangkan Paraning Dumadi dan Tauhid: Membaca Ulang Falsafah Jawa dalam Cahaya Al-Qur\u2019an.\u201d<\/strong><\/p>\n<p><strong>Alam Semesta sebagai Pengingat Sang Pencipta<\/strong><\/p>\n<p>Dalam ceramahnya, Sukamta mengajak jamaah untuk merenungkan alam semesta sebagai tanda kebesaran Allah SWT. Ia mengutip firman Allah dalam <strong>QS. Al-Furqan ayat 61<\/strong> yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan bintang-bintang di langit, menjadikan matahari sebagai pelita, serta bulan sebagai cahaya.<\/p>\n<p>Menurutnya, ayat tersebut mengajak manusia untuk menyadari bahwa keteraturan alam semesta menunjukkan adanya Sang Pencipta yang mengatur segala sesuatu. Dalam Islam, kesadaran tersebut merupakan bagian dari <strong>tauhid rububiyah<\/strong>, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya yang menciptakan dan mengatur seluruh alam.<\/p>\n<p>Ia juga menyinggung kisah dalam Al-Qur\u2019an yang menggambarkan keterbatasan manusia ketika diminta menciptakan sesuatu seperti matahari. Kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk menandingi kekuasaan Allah SWT.<\/p>\n<p><strong>Mengingat Asal Usul Manusia<\/strong><\/p>\n<p>Selain mengajak jamaah untuk merenungkan alam semesta, Sukamta juga mengingatkan tentang asal-usul manusia sebagaimana disebutkan dalam <strong>QS. Al-Mu\u2019minun ayat 12<\/strong> bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah. Menurutnya, ayat tersebut mengandung pesan penting agar manusia tidak bersikap sombong.<\/p>\n<p>\u201cManusia berasal dari tanah, sehingga tidak pantas jika bersikap sombong dengan kekayaan, ilmu, ataupun jabatan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Pesan tersebut sejalan dengan falsafah Jawa <strong>\u201cojo dumeh\u201d<\/strong>, yang berarti jangan merasa lebih atau mentang-mentang memiliki sesuatu. Falsafah ini mengingatkan manusia untuk selalu bersikap rendah hati karena pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya <strong>\u201cInna lillahi wa inna ilaihi raji\u2019un.\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Sukamta juga mengutip ungkapan pujangga Jawa <strong>Raden Rangga Warsita<\/strong> yang mengatakan <em>\u201curip iku mung kaya mampir ngombe,\u201d<\/em> yang berarti kehidupan di dunia hanyalah singgah sementara. Oleh karena itu, kehidupan hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan sebelum manusia kembali kepada Sang Pencipta.<\/p>\n<p><strong>Mengendalikan Nafsu dan Memaknai Ramadhan<\/strong><\/p>\n<p>Sukamta juga menjelaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia menyinggung simbol-simbol nilai spiritual dalam budaya Jawa, salah satunya pada <strong>baju surjan<\/strong> yang memiliki enam kancing di bagian leher sebagai simbol rukun iman.<\/p>\n<p>Selain itu terdapat dua kancing di bagian dada yang melambangkan syahadat serta tiga kancing yang tertutup kain sebagai pesan agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu. Menurutnya, manusia yang mengikuti hawa nafsunya akan mudah terjerumus dalam kehinaan karena kehidupan dunia bersifat sementara.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan keutamaan ibadah di bulan Ramadhan. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT.<\/p>\n<p>Sukamta juga mengajak jamaah untuk menghidupkan <strong>sepuluh malam terakhir Ramadhan<\/strong> guna meraih keutamaan <strong>Lailatul Qadar<\/strong>, malam penuh keberkahan ketika para malaikat turun ke bumi membawa ketenangan bagi manusia.<\/p>\n<p>Orang yang berpeluang mendapatkan Lailatul Qadar adalah mereka yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, bersabar, serta mampu menerima rezeki Allah dengan penuh rasa syukur, ujarnya.<\/p>\n<p>Ramadhan menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara sebelum akhirnya manusia kembali kepada Allah SWT. <em>(Badrun).<\/em><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-1872\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/MWD02056-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"188\" height=\"106\" \/> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-1873\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/MWD02041-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"188\" height=\"106\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;[\/et_pb_text][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p><span>Saksikan video lengkap melalui tautan berikut:<\/span><\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"Kuliah Ramadhan Hari Ke 21 | Prof. Dr. Ir. Sukamta, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng\" width=\"1080\" height=\"608\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/yvuFQeyH914?feature=oembed\"  allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prof. Dr. Ir. Sukamta, M.T., IPU., ASEAN Eng, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah KlatenYOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa &#8211; Falsafah Jawa sejak lama dikenal memiliki banyak ungkapan yang menggambarkan pandangan hidup manusia tentang asal-usul, tujuan, serta perjalanan kehidupan. Dalam perspektif Islam, nilai-nilai tersebut dapat dipahami kembali melalui ajaran tauhid yang menegaskan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1859,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"<strong>YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa<\/strong> - Falsafah Jawa sejak lama dikenal memiliki banyak ungkapan yang menggambarkan pandangan hidup manusia tentang asal-usul, tujuan, serta perjalanan kehidupan. Dalam perspektif Islam, nilai-nilai tersebut dapat dipahami kembali melalui ajaran tauhid yang menegaskan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Hal tersebut disampaikan oleh <strong>Prof. Dr. Ir. Sukamta, M.T., IPU., ASEAN Eng<\/strong>, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Klaten, dalam <strong>Kuliah Tarawih Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Universitas \u2018Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Minggu, 9 Maret 2026 (20 Ramadhan 1447 H)<\/strong> dengan tema <strong>\u201cSangkan Paraning Dumadi dan Tauhid: Membaca Ulang Falsafah Jawa dalam Cahaya Al-Qur\u2019an.\u201d<\/strong>\r\n\r\n<strong>Alam Semesta sebagai Pengingat Sang Pencipta<\/strong>\r\n\r\nDalam ceramahnya, Sukamta mengajak jamaah untuk merenungkan alam semesta sebagai tanda kebesaran Allah SWT. Ia mengutip firman Allah dalam <strong>QS. Al-Furqan ayat 61<\/strong> yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan bintang-bintang di langit, menjadikan matahari sebagai pelita, serta bulan sebagai cahaya.\r\n\r\nMenurutnya, ayat tersebut mengajak manusia untuk menyadari bahwa keteraturan alam semesta menunjukkan adanya Sang Pencipta yang mengatur segala sesuatu. Dalam Islam, kesadaran tersebut merupakan bagian dari <strong>tauhid rububiyah<\/strong>, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya yang menciptakan dan mengatur seluruh alam.\r\n\r\nIa juga menyinggung kisah dalam Al-Qur\u2019an yang menggambarkan keterbatasan manusia ketika diminta menciptakan sesuatu seperti matahari. Kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk menandingi kekuasaan Allah SWT.\r\n\r\n<strong>Mengingat Asal Usul Manusia<\/strong>\r\n\r\nSelain mengajak jamaah untuk merenungkan alam semesta, Sukamta juga mengingatkan tentang asal-usul manusia sebagaimana disebutkan dalam <strong>QS. Al-Mu\u2019minun ayat 12<\/strong> bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah. Menurutnya, ayat tersebut mengandung pesan penting agar manusia tidak bersikap sombong.\r\n\r\n\u201cManusia berasal dari tanah, sehingga tidak pantas jika bersikap sombong dengan kekayaan, ilmu, ataupun jabatan,\u201d jelasnya.\r\n\r\nPesan tersebut sejalan dengan falsafah Jawa <strong>\u201cojo dumeh\u201d<\/strong>, yang berarti jangan merasa lebih atau mentang-mentang memiliki sesuatu. Falsafah ini mengingatkan manusia untuk selalu bersikap rendah hati karena pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya <strong>\u201cInna lillahi wa inna ilaihi raji\u2019un.\u201d<\/strong>\r\n\r\nSukamta juga mengutip ungkapan pujangga Jawa <strong>Raden Rangga Warsita<\/strong> yang mengatakan <em>\u201curip iku mung kaya mampir ngombe,\u201d<\/em> yang berarti kehidupan di dunia hanyalah singgah sementara. Oleh karena itu, kehidupan hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan sebelum manusia kembali kepada Sang Pencipta.\r\n\r\n<strong>Mengendalikan Nafsu dan Memaknai Ramadhan<\/strong>\r\n\r\nSukamta juga menjelaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia menyinggung simbol-simbol nilai spiritual dalam budaya Jawa, salah satunya pada <strong>baju surjan<\/strong> yang memiliki enam kancing di bagian leher sebagai simbol rukun iman.\r\n\r\nSelain itu terdapat dua kancing di bagian dada yang melambangkan syahadat serta tiga kancing yang tertutup kain sebagai pesan agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu. Menurutnya, manusia yang mengikuti hawa nafsunya akan mudah terjerumus dalam kehinaan karena kehidupan dunia bersifat sementara.\r\n\r\nDalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan keutamaan ibadah di bulan Ramadhan. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT.\r\n\r\nSukamta juga mengajak jamaah untuk menghidupkan <strong>sepuluh malam terakhir Ramadhan<\/strong> guna meraih keutamaan <strong>Lailatul Qadar<\/strong>, malam penuh keberkahan ketika para malaikat turun ke bumi membawa ketenangan bagi manusia.\r\n\r\nOrang yang berpeluang mendapatkan Lailatul Qadar adalah mereka yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, bersabar, serta mampu menerima rezeki Allah dengan penuh rasa syukur, ujarnya.\r\n\r\nRamadhan menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara sebelum akhirnya manusia kembali kepada Allah SWT. <em>(Badrun).<\/em>\r\n\r\n<img class=\"alignnone  wp-image-1872\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/MWD02056-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"188\" height=\"106\" \/> <img class=\"alignnone  wp-image-1873\" src=\"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/MWD02041-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"188\" height=\"106\" \/>\r\n\r\n&nbsp;","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[21,19],"tags":[],"hashtags":[],"class_list":["post-1858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliah-kebangsaan","category-ramadhan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1858"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1858\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1878,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1858\/revisions\/1878"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1858"},{"taxonomy":"hashtags","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fhashtags&post=1858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}