{"id":960,"date":"2025-06-20T23:16:57","date_gmt":"2025-06-20T16:16:57","guid":{"rendered":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/?p=960"},"modified":"2025-06-20T23:18:48","modified_gmt":"2025-06-20T16:18:48","slug":"khutbah-jumat-menyoal-generasi-mangu-bersama-ustadz-dr-surwandono-s-sos-m-si","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/?p=960","title":{"rendered":"Khutbah Jumat | &#8220;Menyoal Generasi Mangu?&#8221; bersama Ustadz  Dr. Surwandono, S.Sos, M.Si"},"content":{"rendered":"<p>[et_pb_section fb_built=&#8221;1&#8243; admin_label=&#8221;section&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_row admin_label=&#8221;row&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;][et_pb_column type=&#8221;4_4&#8243; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; custom_padding=&#8221;|||&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221; custom_padding__hover=&#8221;|||&#8221;][et_pb_text admin_label=&#8221;Text&#8221; _builder_version=&#8221;4.16&#8243; background_size=&#8221;initial&#8221; background_position=&#8221;top_left&#8221; background_repeat=&#8221;repeat&#8221; global_colors_info=&#8221;{}&#8221;]<\/p>\n<p data-start=\"213\" data-end=\"572\"><strong data-start=\"213\" data-end=\"241\">Sleman, Yogyakarta<\/strong> \u2013 Khutbah Jumat di Masjid Walidah Dahlan, Universitas \u2018Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Jumat (20\/6\/2025), menghadirkan pesan yang menggugah dari Ustadz Dr. Surwandono, S.Sos., M.Si. Mengangkat tema <strong data-start=\"437\" data-end=\"467\">\u201cMenyoal Generasi Manggu?\u201d<\/strong>, sang khatib mengajak jamaah merenungi fenomena lemahnya daya saing dan karakter generasi muda saat ini.<\/p>\n<p data-start=\"574\" data-end=\"882\">Dalam khutbahnya, Ustadz Surwandono menyoroti istilah <strong data-start=\"628\" data-end=\"649\">\u201cGenerasi Manggu\u201d<\/strong>, sebuah metafora yang menggambarkan generasi yang kurang percaya diri, minder, dan ragu tampil di ruang publik. \u201cMereka sebetulnya memiliki potensi besar, tetapi terhambat oleh rasa malu dan ketergantungan pada kenyamanan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p data-start=\"884\" data-end=\"1147\">Ia menegaskan bahwa fenomena ini harus menjadi perhatian serius berbagai pihak, terutama keluarga, lembaga pendidikan, dan komunitas keagamaan. \u201cKalau tidak disiapkan dari sekarang, kita akan kehilangan generasi penerus yang tangguh dan berdaya saing,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<h3 data-start=\"1149\" data-end=\"1180\"><strong data-start=\"1153\" data-end=\"1180\">Tantangan Zaman Digital<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"1182\" data-end=\"1440\">Ustadz Surwandono juga mengkritisi dampak budaya instan dan konsumerisme terhadap anak muda. Ia menyebut bahwa perkembangan teknologi yang pesat tak diimbangi dengan literasi, karakter kuat, dan kesadaran sosial.<\/p>\n<p data-start=\"1442\" data-end=\"1598\">\u201cGenerasi hari ini terlalu banyak terpaku pada layar, tapi kurang mengenal realitas sosial dan spiritual. Mereka tahu tren, tapi kehilangan arah,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p data-start=\"1600\" data-end=\"1854\">Menurutnya, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam harus menjadi benteng sekaligus pondasi pembentukan pribadi yang tangguh. Ia menyerukan agar generasi muda didorong untuk berani berpikir kritis, mandiri, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][et_pb_code _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; raw_content_last_edited=&#8221;off|desktop&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<iframe loading=\"lazy\" width=\"560\" height=\"315\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/3fjPXAdOfC4?si=urk1Un0Gil_5yd7i\" title=\"YouTube video player\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>[\/et_pb_code][et_pb_text _builder_version=&#8221;4.27.4&#8243; _module_preset=&#8221;default&#8221; hover_enabled=&#8221;0&#8243; sticky_enabled=&#8221;0&#8243;]<\/p>\n<p data-start=\"1600\" data-end=\"1854\">\n<h3 data-start=\"1856\" data-end=\"1905\"><strong data-start=\"1860\" data-end=\"1905\">Solusi: Literasi, Akhlak, dan Keteladanan<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"1907\" data-end=\"2177\">Sebagai solusi, khatib mengajak jamaah untuk menumbuhkan budaya literasi dan menanamkan akhlak mulia sejak dini. \u201cKita butuh lebih banyak contoh nyata\u2014keteladanan dari orang tua, guru, dan pemimpin yang menunjukkan sikap jujur, kerja keras, dan peduli sesama,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p data-start=\"2179\" data-end=\"2310\">Khutbah ditutup dengan doa agar umat Islam dikaruniai generasi yang unggul\u2014berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.<\/p>\n<h3 data-start=\"2312\" data-end=\"2339\"><strong data-start=\"2316\" data-end=\"2339\">Pesan yang Menggema<\/strong><\/h3>\n<p data-start=\"2341\" data-end=\"2597\">Khutbah ini disambut antusias oleh jamaah yang memadati Masjid Walidah Dahlan. Banyak yang merefleksikan bahwa pesan Ustadz Surwandono relevan dengan kondisi saat ini, di mana peran keluarga dan pendidikan sangat krusial dalam membentuk karakter anak muda.<\/p>\n<p data-start=\"2599\" data-end=\"2800\">Dengan nada tegas namun penuh harap, Ustadz Surwandono menegaskan: \u201cMari kita bangkitkan generasi dari \u2018manggu\u2019 menjadi unggul. Jangan biarkan masa depan bangsa ini menjadi penonton di negeri sendiri.\u201d<\/p>\n<p>[\/et_pb_text][\/et_pb_column][\/et_pb_row][\/et_pb_section]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sleman, Yogyakarta \u2013 Khutbah Jumat di Masjid Walidah Dahlan, Universitas \u2018Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Jumat (20\/6\/2025), menghadirkan pesan yang menggugah dari Ustadz Dr. Surwandono, S.Sos., M.Si. Mengangkat tema \u201cMenyoal Generasi Manggu?\u201d, sang khatib mengajak jamaah merenungi fenomena lemahnya daya saing dan karakter generasi muda saat ini. Dalam khutbahnya, Ustadz Surwandono menyoroti istilah \u201cGenerasi Manggu\u201d, sebuah metafora [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":961,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"on","_et_pb_old_content":"<p data-start=\"213\" data-end=\"572\"><strong data-start=\"213\" data-end=\"241\">Sleman, Yogyakarta<\/strong> \u2013 Khutbah Jumat di Masjid Walidah Dahlan, Universitas \u2018Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Jumat (20\/6\/2025), menghadirkan pesan yang menggugah dari Ustadz Dr. Surwandono, S.Sos., M.Si. Mengangkat tema <strong data-start=\"437\" data-end=\"467\">\u201cMenyoal Generasi Manggu?\u201d<\/strong>, sang khatib mengajak jamaah merenungi fenomena lemahnya daya saing dan karakter generasi muda saat ini.<\/p>\r\n<p data-start=\"574\" data-end=\"882\">Dalam khutbahnya, Ustadz Surwandono menyoroti istilah <strong data-start=\"628\" data-end=\"649\">\u201cGenerasi Manggu\u201d<\/strong>, sebuah metafora yang menggambarkan generasi yang kurang percaya diri, minder, dan ragu tampil di ruang publik. \u201cMereka sebetulnya memiliki potensi besar, tetapi terhambat oleh rasa malu dan ketergantungan pada kenyamanan,\u201d ujarnya.<\/p>\r\n<p data-start=\"884\" data-end=\"1147\">Ia menegaskan bahwa fenomena ini harus menjadi perhatian serius berbagai pihak, terutama keluarga, lembaga pendidikan, dan komunitas keagamaan. \u201cKalau tidak disiapkan dari sekarang, kita akan kehilangan generasi penerus yang tangguh dan berdaya saing,\u201d lanjutnya.<\/p>\r\n\r\n<h3 data-start=\"1149\" data-end=\"1180\"><strong data-start=\"1153\" data-end=\"1180\">Tantangan Zaman Digital<\/strong><\/h3>\r\n<p data-start=\"1182\" data-end=\"1440\">Ustadz Surwandono juga mengkritisi dampak budaya instan dan konsumerisme terhadap anak muda. Ia menyebut bahwa perkembangan teknologi yang pesat tak diimbangi dengan literasi, karakter kuat, dan kesadaran sosial.<\/p>\r\n<p data-start=\"1442\" data-end=\"1598\">\u201cGenerasi hari ini terlalu banyak terpaku pada layar, tapi kurang mengenal realitas sosial dan spiritual. Mereka tahu tren, tapi kehilangan arah,\u201d jelasnya.<\/p>\r\n<p data-start=\"1600\" data-end=\"1854\">Menurutnya, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam harus menjadi benteng sekaligus pondasi pembentukan pribadi yang tangguh. Ia menyerukan agar generasi muda didorong untuk berani berpikir kritis, mandiri, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.<\/p>\r\n\r\n<h3 data-start=\"1856\" data-end=\"1905\"><strong data-start=\"1860\" data-end=\"1905\">Solusi: Literasi, Akhlak, dan Keteladanan<\/strong><\/h3>\r\n<p data-start=\"1907\" data-end=\"2177\">Sebagai solusi, khatib mengajak jamaah untuk menumbuhkan budaya literasi dan menanamkan akhlak mulia sejak dini. \u201cKita butuh lebih banyak contoh nyata\u2014keteladanan dari orang tua, guru, dan pemimpin yang menunjukkan sikap jujur, kerja keras, dan peduli sesama,\u201d tegasnya.<\/p>\r\n<p data-start=\"2179\" data-end=\"2310\">Khutbah ditutup dengan doa agar umat Islam dikaruniai generasi yang unggul\u2014berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.<\/p>\r\n\r\n<h3 data-start=\"2312\" data-end=\"2339\"><strong data-start=\"2316\" data-end=\"2339\">Pesan yang Menggema<\/strong><\/h3>\r\n<p data-start=\"2341\" data-end=\"2597\">Khutbah ini disambut antusias oleh jamaah yang memadati Masjid Walidah Dahlan. Banyak yang merefleksikan bahwa pesan Ustadz Surwandono relevan dengan kondisi saat ini, di mana peran keluarga dan pendidikan sangat krusial dalam membentuk karakter anak muda.<\/p>\r\n<p data-start=\"2599\" data-end=\"2800\">Dengan nada tegas namun penuh harap, Ustadz Surwandono menegaskan: \u201cMari kita bangkitkan generasi dari \u2018manggu\u2019 menjadi unggul. Jangan biarkan masa depan bangsa ini menjadi penonton di negeri sendiri.\u201d<\/p>","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"hashtags":[],"class_list":["post-960","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/960","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=960"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/960\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":965,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/960\/revisions\/965"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/961"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=960"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=960"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=960"},{"taxonomy":"hashtags","embeddable":true,"href":"https:\/\/walidahdahlan.unisayogya.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fhashtags&post=960"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}