Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta kembali menyelenggarakan Kultum Dzuhur pada Kamis, 29 Januari 2026, dengan menghadirkan Ibu Andhita Dyorita Khoiryasdien, S.Psi., M.Psi., Psikolog sebagai pemateri. Kultum ini diikuti oleh jamaah salat Dzuhur dalam suasana yang tenang dan reflektif.

Dalam penyampaiannya, pemateri mengangkat tema “Memaafkan: Allah Melapangkan Hati, Hadiah Terindah untuk Diri Sendiri.” Disampaikan bahwa dalam perjalanan hidup, tidak semua orang akan menyukai kita. Ada kalanya seseorang disakiti, direndahkan, bahkan dilukai oleh perkataan dan perlakuan orang lain, yang sering kali bukan karena kesalahan kita, melainkan karena luka batin orang tersebut yang belum terselesaikan.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa Islam tidak melarang manusia merasakan emosi seperti marah, sedih, atau kecewa. Namun, Islam mengajarkan bagaimana mengelola emosi agar tidak menguasai hati dan merusak ketenangan jiwa. Dalam perspektif psikologi, emosi yang tidak dikelola dapat berkembang menjadi kemarahan berkepanjangan, dendam, dan kegelisahan. Salah satu bentuk regulasi emosi tertinggi adalah pemaafan.

Pemateri menegaskan bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, melupakan kejadian, atau harus kembali berdamai dengan orang yang menyakiti. Pemaafan adalah proses batin untuk melepaskan kemarahan dan membebaskan diri dari penjara emosi, demi ketenangan hati. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 13 yang menganjurkan untuk memaafkan dan melapangkan dada.

Sebagai penutup, jamaah diajak untuk mulai belajar memaafkan sebagai bentuk kasih sayang kepada diri sendiri. Dengan memaafkan, hati menjadi lebih lapang, jiwa lebih tenang, dan hidup terasa lebih bermakna, seraya terus menguatkan diri dengan zikir, doa, dan kedekatan kepada Allah SWT.