Mahasiswa internasional menunjukkan semangat yang tinggi dalam kegiatan Dialog Ruang Ketiga bertema “Puasa dalam Pengalaman Bangsa-Bangsa (Fasting Across Nations)” yang diselenggarakan di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Ramadhan yang menghadirkan mahasiswa luar negeri untuk berbagi pengalaman menjalankan ibadah puasa di negara masing-masing.

Program Dialog Ruang Ketiga merupakan hasil kolaborasi antara  Aisyiyah English Club (AEC) dan pengelola masjid. Kegiatan ini menghadirkan enam mahasiswa internasional yang berasal dari Nigeria, Yaman, Ghana, Sudan, India, dan Libya yang saat ini sedang menempuh studi di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Mereka diundang untuk berbagi cerita tentang tradisi, kebiasaan, serta pengalaman menjalankan ibadah puasa di negara masing-masing, termasuk kondisi sosial, budaya, serta tantangan yang mereka hadapi.

Pembina AEC selaku panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk membuka wawasan mahasiswa tentang praktik puasa di berbagai negara, sekaligus menjadi ruang saling belajar antara mahasiswa internasional dan mahasiswa Indonesia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat memahami bagaimana umat Islam menjalankan ibadah puasa dalam berbagai situasi, termasuk di negara dengan mayoritas Muslim maupun di negara dengan Muslim sebagai minoritas. Selain itu, mahasiswa internasional juga dapat mengenal budaya Ramadhan di Indonesia yang hidup di tengah masyarakat yang beragam agama, suku, dan budaya.

Kegiatan ini diselenggarakan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Hal ini merupakan bagian dari upaya kampus untuk membiasakan penggunaan bahasa Inggris dalam kegiatan akademik maupun keagamaan. Penggunaan bahasa Inggris diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran dan membangun kepercayaan diri mahasiswa dalam berkomunikasi di tingkat global. Panitia juga menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk terbiasa menggunakan bahasa Inggris, sehingga dapat meningkatkan kemampuan bahasa secara bertahap.

Salah satu peserta kegiatan, Roni, menyampaikan bahwa kegiatan talk show dengan menghadirkan mahasiswa dari berbagai negara merupakan kegiatan yang sangat baik dan penting dilaksanakan di lingkungan masjid. Menurutnya, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat ilmu dan pembelajaran. Ia juga menilai bahwa kegiatan ini menunjukkan komitmen kampus untuk menjadi lebih terbuka dan berorientasi global dengan melibatkan mahasiswa internasional dalam kegiatan keagamaan. Meski tidak semua peserta memahami bahasa Inggris, ia menilai hal tersebut bukan menjadi hambatan, melainkan bagian dari proses pembelajaran.

Salah satu narasumber internasional juga menyampaikan rasa senang dan bahagia dapat berbagi pengalaman tentang Ramadhan di Indonesia dan di negaranya. Ia mengungkapkan bahwa suasana Ramadhan di Indonesia terasa sangat berbeda dibandingkan negaranya, terutama karena umat Islam di negaranya merupakan minoritas. Ia juga merasa bahwa masyarakat Indonesia sangat ramah dan menerima dengan baik kehadiran mahasiswa internasional. Pengalaman tersebut menjadi hal yang berkesan baginya selama menjalani Ramadhan di Indonesia.

Melalui kegiatan Dialog Ruang Ketiga ini, diharapkan mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas tentang praktik ibadah puasa di berbagai negara, serta memperkuat rasa persaudaraan antarumat Muslim dari berbagai latar belakang. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran lintas budaya dan bahasa, serta memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan keilmuan, keagamaan, dan dialog global.