Dr. med. dr. Supriyatiningsih, M.Kes., Sp.OG., dokter spesialis kandungan dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- Setiap manusia yang ada di dunia ini, dengan segenap multilapisitas intelektual dan jasmaninya, berawal dari satu titik yang nyaris tak terlihat oleh mata langsung tanpa adanya alat bantu. Sebuah sel tunggal bernama zigot berfungsi sebagai bukti nyata betapa presisinya rancangan Allah SWT dalam menyusun kehidupan. Manusia sering kali terbelenggu dalam kepuasan atas keberhasilan intelektual dan jasmaninya, namun sering kali melupakan awal dari kehidupan semua itu bermula. Hal ini diungkap dalam Kuliah Ramadan di Masjid Walidah Dahlan Unisa Lantai 2 pada, Senin, 16 Maret 2026 dengan Dr. med. dr. Supriyatiningsih, M.Kes., Sp.OG. sebagai penceramah, mengajak kita untuk melihat ke belakang pada fase paling awal eksistensi kita di dalam rahim.

Kehebatan dari Satu Sel Tunggal di Dalam Rahim

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Hilirisasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menegaskan bahwa perjalanan hidup setiap makhluk manusia berawal dari satu titik mikroskopis yang dikenal sebagai zigot. Dari satu sel tunggal ini, tersimpan semua blueprint informasi genetika yang membangun identifikasi biologis manusia secara utuh. Ia menyoroti betapa luar biasanya lonjakan biologis yang terbentuk, dari satu sel berevolusi menjadi sekitar 37 triliun sel tubuh dengan lebih dari 200 jenis sel yang berbeda.

Bagaimana mungkin kompleksitas kehidupan manusia bermula dari satu sel yang sangat kecil?” tanya Badan Pembina Harian (BPH) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta.

Supriyatiningsih menyampaikan bahwa proses tersebut bukanlah sekadar fenomena biologis secara acak, melainkan sebuah skenario Tuhan yang sangat cermat. Dalam embriologi modern, proses tumbuh ini melalui proses diferensiasi dan organogenesis yang sangat kompleks. Bayangkan, otak manusia saja memerlukan sekitar 86 miliar neuron untuk dapat bekerja, dan semuanya berawal dari ruang gelap tanpa cahaya yang disebut rahim.

Rahim sebagai “Qarār Makīn”

Supriyatiningsih menyampaikan terminologi qarār makīn dalam QS Al-Mu’minun ayat 13 bukan hanya sekadar metafora. Secara medis, ia menekankan bahwa rahim merupakan lingkungan biologis yang sangat presisi. Rahim berperan sebagai ruang proses penanaman embrio, penyedia nutrisi optimal, hingga benteng pertahanan imunologis yang menjaga janin dari respons imun ibu sendiri.

Rahim bukan sekadar sebagai organ reproduksi, melainkan lingkungan biologis yang sangat presisi yang menopang dan menjaga kehidupan manusia sejak awal. Rahim merupakan laboratorium kehidupan,” tegas dokter kandungan RS PKU Gamping, 28 Ramadan 1447 Hijriah.

Di rahim, pertumbuhan terjadi secara sistematis, berawal dari pembelahan sel dalam 24 jam pertama, hingga pembentukan struktur organ utama yang hampir utuh pada usia 8 minggu, meski ukuran janin baru sekitar 2–3 cm.

Integrasi Sains dan Wahyu

Supriyatiningsih menyampaikan pesan kuat bahwa ilmu pengetahuan tidak seharusnya menjauhkan manusia dari Tuhan. Justru sebaliknya, ilmu embriologi modern seperti yang tertuang dalam karya Moore KL (The Developing Human) atau Sadler TW (Langman’s Medical Embryology) malah berperan sebagai sarana untuk bertadabbur.

Semakin dalam ilmu pengetahuan saat mempelajari tubuh manusia, maka semakin terlihat ketelitian dan kebesaran Allah dalam penciptaan kehidupan,” tutur pengurus Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Yogyakarta periode 2022-2025.

Melalui pengertian ini, manusia didorong untuk mempunyai sifat kerendahan hati karena manusia bermula dari sesuatu yang sederhana, sekaligus mengagumi keajaiban hidup yang terstruktur secara luar biasa di balik dinding rahim. (Puji).

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: