YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan UNISA – Salat Jumat pada 1 Mei 2026 di Masjid Walidah Dahlan menghadirkan Dr. Surwandono, S.Sos., M.Si. sebagai khatib. Dalam khotbahnya, beliau mengangkat tema Muslim dan Masjid: Stagnasi atau Dinamisasi.

Fenomena global menunjukkan bahwa umat Islam merupakan populasi terbesar kedua di dunia setelah Nasrani. Namun menariknya, posisi ketiga justru ditempati oleh kelompok agnostik dan ateis. Di sisi lain, jumlah masjid di seluruh dunia sangat banyak dan terus bertambah. Akan tetapi, realitas ini tidak selalu berbanding lurus dengan kontribusi keilmuan dan solusi yang dihasilkan bagi umat.

Masjid yang Banyak, tetapi Minim Produktivitas

Khatib menyoroti adanya ketimpangan antara jumlah masjid dengan jumlah publikasi atau kontribusi intelektual yang dihasilkan. Jika dibandingkan dengan gereja yang memiliki banyak publikasi dan pengembangan pemikiran, masjid justru relatif minim dalam menghasilkan gagasan dan solusi atas persoalan umat. Salah satu penyebabnya adalah cara pandang yang keliru terhadap masjid. Masjid sering kali hanya diposisikan sebagai fasilitas atau infrastruktur semata—sekadar bangunan pelengkap. Akibatnya, masjid menjadi objek pasif, bukan subjek yang aktif menggerakkan kehidupan umat.

Masjid dalam Perspektif Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah At-Taubah ayat 18, dijelaskan bahwa masjid bukan hanya tempat bersujud. Masjid memiliki makna yang lebih luas, yaitu sebagai pusat nilai, norma, etika, dan gagasan yang mampu menggerakkan masyarakat. Makna ini menunjukkan bahwa masjid seharusnya menjadi pusat pembinaan umat, tempat lahirnya solusi, serta ruang untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Teladan Rasulullah dalam Membangun Peradaban

Khatib juga mengingatkan bagaimana Nabi Muhammad ketika tiba di Quba langsung membangun masjid, bahkan sebelum membangun aspek lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa masjid menjadi fondasi utama dalam membentuk masyarakat. Masjid tidak menunggu masyarakat menjadi ideal terlebih dahulu, tetapi justru menjadi sarana untuk membentuk masyarakat yang ideal. Jika fungsi ini tidak dijalankan, maka akan muncul “sindrom masjid”, yaitu masjid yang hanya berdiri secara fisik tetapi tidak memiliki peran signifikan dalam kehidupan umat.

Problematika Tata Kelola Masjid

Lebih lanjut, khatib menyoroti bahwa permasalahan utama masjid saat ini terletak pada tata kelolanya. Masjid masih banyak diposisikan sebagai infrastruktur, padahal seharusnya menjadi suprastruktur yang menggerakkan berbagai aspek kehidupan umat. Hal ini juga tercermin dari minimnya perhatian terhadap kajian keilmuan tentang masjid. Di Indonesia sendiri, belum banyak institusi pendidikan yang memiliki pusat studi masjid atau program khusus terkait manajemen masjid. Akibatnya, produktivitas masjid dalam melahirkan solusi umat masih terbatas. Meski demikian, terdapat beberapa masjid yang telah menunjukkan peran strategisnya dalam pemberdayaan umat, seperti Masjid Jogokariyan dan beberapa masjid lainnya yang aktif dalam kegiatan sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Mengembalikan Peran Masjid

Di akhir khotbah, jamaah diajak untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya. Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi harus menjadi pusat peradaban yang hidup, produktif, dan mampu menjawab tantangan zaman. Dengan menjadikan masjid sebagai pusat nilai dan gerakan, diharapkan umat Islam tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga kuat dalam kontribusi dan peran nyata bagi masyarakat.(Rafi)

 

 

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: