Yogyakarta – Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
resmi menerima hibah pengelolaan Masjid Al-‘Adn dari ahli waris keluarga almarhum dr. Suwardi dan Ibu Purwaningsih. Penandatanganan surat kuasa pengelolaan dilaksanakan pada Senin, 4 Mei 2026 pukul 14.00 WIB di ruang rapat Wakil Rektor, menandai babak baru pemanfaatan masjid untuk kepentingan umat.
Prosesi penandatanganan tersebut turut dihadiri oleh tiga ahli waris keluarga, yaitu drg. Dewi Setyawati, Tiara Kusumawati, dan dr. Retno Cahyani. Sementara dari pihak UNISA Yogyakarta hadir Wakil Rektor III Prof. Dr. Mufdlillah, S.SiT., M.Sc., Ketua LPPI, serta pengurus Masjid Walidah Dahlan. Masjid Al-‘Adn yang dihibahkan pengelolaannya ini memiliki luas bangunan sekitar 462 meter persegi dan sebelumnya merupakan aset milik pribadi keluarga
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Mufdlillah, S.SiT., M.Sc. menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada UNISA Yogyakarta. Beliau menegaskan bahwa pengelolaan masjid akan dioptimalkan untuk kemaslahatan bersama, baik bagi mahasiswa, dosen, karyawan, maupun masyarakat umum.
“Ini adalah amanah besar yang akan kami kelola sebaik-baiknya. Semoga masjid ini menjadi pusat kebermanfaatan dan mampu membangun keberadaban di tengah masyarakat. Kami juga mendoakan agar keluarga senantiasa mendapatkan pahala jariyah yang tidak terputus,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Mufdlillah, S.SiT., M.Sc. juga menyampaikan terima kasih mendalam atas hibah tersebut. “Atas nama UNISA Yogyakarta, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang tidak terduga, berupa kedamaian, kebahagiaan, dan ketenangan dalam beribadah,” tambahnya.

Sementara itu, drg. Dewi Setyawati sebagai perwakilan ahli waris menyampaikan harapan agar Masjid Al-‘Adn tetap hidup dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekitar. Beliau mengungkapkan bahwa keputusan untuk menghibahkan pengelolaan masjid dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meneruskan amal kebaikan kedua orang tua.
“Setelah orang tua kami wafat, kami bertiga sepakat untuk menghibahkan masjid ini agar pahala mereka terus mengalir. Kami juga ingin memastikan masjid ini dikelola oleh pihak yang bertanggung jawab,” ujar drg. Dewi Setyawati.
Masjid Al-‘Adn yang sebelumnya merupakan milik keluarga diharapkan tetap menjadi ruang ibadah yang inklusif. Sejak awal, pendirinya menginginkan masjid ini terbuka untuk semua kalangan, tanpa terikat pada kelompok tertentu. Meski demikian, dengan latar belakang keluarga yang dekat dengan Muhammadiyah, kepercayaan pengelolaan akhirnya diberikan kepada UNISA Yogyakarta sebagai bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah.
Dengan pengelolaan baru ini, Masjid Al-‘Adn diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang mampu mempererat ukhuwah serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. (Raffi)