Yogyakarta

– Salat Jumat pada 8 Mei 2026 di Masjid Walidah Dahlan menghadirkan Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN.Eng. sebagai khatib. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan tema tentang pentingnya iman dan amal dalam kehidupan manusia di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Khatib mengawali khutbah dengan menjelaskan bahwa seluruh ciptaan Allah yang dapat ditangkap oleh pancaindra merupakan fenomena alam yang harus dipelajari dan dikaji dengan baik. Hal ini sebagaimana perintah pertama dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1 yang memerintahkan manusia untuk membaca dan menuntut ilmu.

Ilmu Pengetahuan dan Kemajuan Teknologi

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia mampu “memecahkan” dimensi ruang. Dengan kemajuan teknologi komunikasi, jarak antarmanusia menjadi semakin dekat. Namun demikian, khatib menegaskan bahwa hingga saat ini manusia belum mampu mengalahkan dimensi waktu. Waktu tetap menjadi sesuatu yang terbatas bagi manusia. Dalam Surah Al-‘Asr, Allah mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian apabila tidak mampu memanfaatkan waktunya dengan baik. Kerugian tersebut berkaitan dengan keterbatasan hidup manusia yang telah ditentukan oleh waktu dan kematian. Oleh sebab itu, manusia membutuhkan iman sebagai jalan menuju keselamatan dan kemuliaan hidup.

Iman sebagai Jembatan Kehidupan

Dalam khotbahnya, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN.Eng. menjelaskan bahwa iman dalam Islam bukan sekadar keyakinan dalam hati, tetapi juga mencakup pengucapan dengan lisan dan pembuktian melalui amal perbuatan. Iman menjadi jembatan penting antara dunia material dan immaterial. Tidak semua hal yang bersifat immaterial berarti tidak dapat dirasakan. Banyak hal yang tidak tampak secara fisik, tetapi keberadaannya dapat dirasakan oleh manusia, termasuk iman, ketenangan, kasih sayang, dan nilai-nilai spiritual lainnya. Karena itu, iman memiliki peran penting dalam membantu manusia memahami makna kehidupan yang tidak hanya terbatas pada aspek material semata.

Manusia sebagai Khalifatullah

Khatib juga mengingatkan bahwa kedudukan manusia di bumi adalah sebagai khalifatullah, yaitu makhluk yang diberi amanah untuk menjaga kelestarian, kedamaian, dan keseimbangan kehidupan. Keimanan yang benar harus tercermin dalam amal nyata. Iman bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam perilaku, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan serta sesama manusia.

Golongan Manusia

Di akhir khotbah, jamaah diajak untuk merenungkan empat golongan manusia dalam memahami ilmu dan dirinya sendiri, yaitu:

  1. Orang yang tahu bahwa dirinya tahu.
  2. Orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu.
  3. Orang yang tidak tahu bahwa dirinya tahu.
  4. Orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Golongan terakhir menjadi peringatan agar manusia tidak terjebak dalam kesombongan dan merasa paling benar. Sebaliknya, seorang muslim hendaknya terus belajar, memperbaiki diri, serta menguatkan iman dan amal dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui khotbah ini, jamaah diajak untuk menjadikan iman sebagai landasan utama dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga kemajuan yang dicapai manusia tetap membawa kebermanfaatan, kedamaian, dan kemuliaan hidup.