Yogyakarta – Salat Iduladha 1447 H yang diselenggarakan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, pada Rabu, 27 Mei 2026, di halaman gedung Siti Walidah UNISA Yogyakarta. Bertindak sebagai khatib, Dr. Iwan Setiawan menyampaikan khutbah bertema “Akan Indah pada Waktunya: Belajar Keteguhan dari Nabi Ibrahim Alaihis Salam.” .

Dalam khutbahnya, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) D.I. Yogyakarta periode 2022–2027, mengajak jamaah untuk merenungkan dua nikmat besar yang sering dilalaikan manusia, yaitu nikmat sehat dan nikmat sempat. Menurut beliau, kemampuan seseorang untuk hadir melaksanakan Salat Iduladha merupakan bukti bahwa Allah SWT masih memberikan kesehatan dan kesempatan hidup yang patut disyukuri.

Khatib menegaskan bahwa bentuk syukur atas dua nikmat tersebut diwujudkan dengan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT melalui pelaksanaan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Keteguhan Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Ujian

Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 124, iwan menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS merupakan sosok yang diuji Allah SWT dengan berbagai ketentuan dan ujian kehidupan, namun beliau mampu menunaikannya dengan penuh keteguhan.

Beberapa tafsir turut dijelaskan dalam khutbah tersebut. Dalam Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh, kata “kalimat” pada ayat tersebut dimaknai sebagai hukum-hukum Allah SWT yang harus dijalankan Nabi Ibrahim AS. Sementara dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, kata tersebut dimaknai sebagai berbagai ujian kehidupan yang harus dilalui beliau.

Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menyampaikan bahwa kehidupan Nabi Ibrahim AS penuh dengan ujian, cobaan, serta perjuangan mempertahankan tauhid. Sejak kecil, beliau hidup di tengah kekuasaan Raja Namrud yang zalim dan menyembah berhala. Bahkan ketika lahir, Nabi Ibrahim AS harus disembunyikan demi menghindari ancaman pembunuhan terhadap bayi laki-laki pada masa itu.

Selain itu, Nabi Ibrahim AS juga menghadapi ujian ketika menolak penyembahan berhala dan mencari kebenaran tentang Tuhan hingga akhirnya menemukan tauhid kepada Allah SWT. Keteguhan tersebut membuat beliau harus menghadapi berbagai penolakan dan ancaman, termasuk dibakar oleh Raja Namrud.

Khatib menjelaskan bahwa setiap manusia pada hakikatnya akan diuji oleh Allah SWT sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 tentang berbagai bentuk ujian kehidupan, mulai dari rasa takut, kelaparan, hingga kekurangan harta.

Hijrah, Kesabaran, dan Ketaatan Nabi Ibrahim AS

Dalam khutbahnya, khatib juga menceritakan perjalanan hijrah Nabi Ibrahim AS dari negeri Kanaan menuju Palestina bersama istrinya, Sarah, dan keponakannya, Nabi Luth AS. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim AS kembali menghadapi ujian berupa kelaparan dan kesulitan hidup.

Ketika tinggal di Mesir, Nabi Ibrahim AS juga menghadapi masyarakat yang mempercayai astrologi sebagai penentu nasib manusia. Beliau kemudian meluruskan keyakinan tersebut dengan mengajarkan bahwa bintang-bintang merupakan bagian dari sunnatullah dan tidak menentukan nasib seseorang.

Ujian lain yang dihadapi Nabi Ibrahim AS adalah penantian panjang untuk memperoleh keturunan. Setelah bertahun-tahun menunggu, beliau akhirnya dikaruniai Nabi Ismail AS dan kemudian Nabi Ishaq AS, yang kelak menjadi penerus para nabi besar.

Namun setelah memperoleh keturunan, Nabi Ibrahim AS kembali diuji dengan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa tersebut menjadi salah satu simbol utama dalam ibadah Iduladha dan ibadah haji yang terus dikenang umat Islam hingga saat ini.

Khatib menjelaskan bahwa sejumlah rangkaian ibadah haji, seperti sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah serta lempar jumrah, memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan Nabi Ismail AS.

Akan Indah pada Waktunya

Di akhir khutbah, khatib menegaskan bahwa keteguhan Nabi Ibrahim AS dalam menjalani ujian membuahkan keberkahan besar dari Allah SWT. Salah satu anugerah terbesar yang diberikan kepada beliau adalah Kota Makkah sebagai negeri yang aman dan penuh keberkahan.

Mengutip doa Nabi Ibrahim AS dalam Surah Al-Baqarah ayat 126, khatib menjelaskan bahwa Makkah yang awalnya merupakan daerah tandus kemudian menjadi pusat peradaban Islam dan tempat suci bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Melalui khutbah ini, jamaah diajak untuk meneladani keteguhan, kesabaran, keberanian melawan kezaliman, serta ketaatan Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT. Khatib juga mengajak jamaah agar terus menjaga semangat beribadah, membangun keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, serta tetap istiqamah dalam menjalani berbagai ujian kehidupan.

Di penghujung khutbah, jamaah bersama-sama memanjatkan doa agar setiap harapan dan cita-cita yang diikhtiarkan dapat diijabah oleh Allah SWT, serta diberikan kekuatan untuk terus meneladani akhlak dan perjuangan Nabi Ibrahim AS dalam kehidupan sehari-hari.