YOGYAKARTA – Dalam khotbah Jumat yang disampaikan pada Jumat (5/6/2026), Dr. Askuri Ibnu Chamim, S.S., M.Si. mengajak jamaah untuk memaknai waktu-waktu mulia dalam Islam sebagai sarana memperbaiki kualitas diri. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, umat Islam diingatkan untuk kembali kepada khittah manusia sebagai makhluk yang berpikir, belajar, dan terus mengembangkan potensi intelektual yang dianugerahkan Allah SWT.
Memuliakan Waktu yang Dimuliakan Allah
Allah SWT telah menetapkan beberapa waktu yang memiliki keutamaan khusus dalam syariat Islam. Salah satunya adalah bulan Zulhijah yang termasuk bagian dari asyhurul hurum atau bulan-bulan yang dimuliakan sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 36. Selain itu, Allah juga bersumpah dengan sepuluh hari pertama Zulhijah dalam surat Al-Fajr. Para ulama menjelaskan bahwa ketika Allah bersumpah atas sesuatu, terdapat nilai dan pelajaran penting yang perlu diperhatikan oleh manusia. Kemuliaan waktu tersebut menjadi pengingat agar umat Islam mengisinya dengan berbagai aktivitas yang bernilai ibadah dan kebaikan. Tradisi Islam mengajarkan banyak amalan yang dapat dilakukan pada waktu-waktu mulia, mulai dari memperbanyak sedekah, menuntut ilmu, meningkatkan kualitas ibadah, hingga melakukan berbagai aktivitas produktif yang membawa manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat. Dengan demikian, kemuliaan waktu bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga untuk dimanfaatkan sebagai sarana meningkatkan kualitas hidup dan keimanan.
Jangan Menganiaya Diri Sendiri
Dalam ayat yang sama, Allah juga mengingatkan agar manusia tidak menganiaya dirinya sendiri. Pesan ini tidak hanya relevan pada konteks ketika ayat tersebut diturunkan, tetapi juga dapat menjadi bahan refleksi bagi kehidupan modern saat ini. Sering kali seseorang menyakiti dirinya bukan dengan tindakan yang terlihat jelas, melainkan melalui kebiasaan yang perlahan mengikis potensi yang dimilikinya. Waktu yang terbuang sia-sia, kesempatan belajar yang diabaikan, serta kebiasaan yang menjauhkan diri dari hal-hal bermanfaat merupakan bentuk kerugian yang kerap tidak disadari. Padahal dunia merupakan tempat menanam berbagai kebaikan yang kelak akan dipanen hasilnya di akhirat. Karena itu, setiap muslim perlu memastikan bahwa waktu yang dimilikinya benar-benar digunakan untuk sesuatu yang bernilai dan membawa kemaslahatan.
Fenomena Popcorn Brain di Era Modern
Dalam khotbahnya, Dr. Askuri Ibnu Chamim, S.S., M.Si.juga menyoroti fenomena yang dikenal dengan istilah popcorn brain. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu sering terpapar informasi yang singkat, cepat, dan dangkal sehingga kemampuan fokus dan berpikir mendalam semakin berkurang. Fenomena ini menjadi perhatian karena sejumlah penelitian menunjukkan adanya kecenderungan penurunan kemampuan kognitif pada sebagian generasi muda terutama generasi z dalam beberapa dekade terakhir. Padahal secara umum, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas intelektual manusia.
Kehadiran media digital memang menawarkan kemudahan dalam memperoleh informasi. Namun jika tidak disikapi secara bijak, kebiasaan mengonsumsi konten secara cepat dan terus-menerus dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk membaca secara mendalam, merenung, serta memahami suatu persoalan secara utuh. Tidak sedikit orang yang menghabiskan berjam-jam waktunya setiap hari di depan layar, sementara ruang untuk belajar secara serius, membaca buku, atau melakukan refleksi justru semakin berkurang. Kondisi inilah yang perlu menjadi perhatian bersama.
Kembali kepada Khittah Manusia
Menutup khotbahnya, Dr. Askuri Ibnu Chamim, S.S., M.Si. mengajak jamaah menjadikan momentum arba’atul hurum sebagai sarana untuk kembali kepada khittah manusia, yaitu sebagai makhluk yang berpikir. Jangan sampai berbagai kemudahan dan distraksi kehidupan modern justru membuat kapasitas kognitif manusia semakin menurun. Sebaliknya, waktu-waktu mulia yang Allah anugerahkan hendaknya menjadi pendorong untuk terus memupuk kebajikan melalui proses belajar yang berkelanjutan, memperkaya wawasan, dan memperdalam ilmu pengetahuan. Dengan akumulasi pengetahuan yang mendalam, setiap muslim diharapkan mampu mengembangkan potensi akalnya secara optimal, menjadi pribadi yang lebih berkualitas, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi sesama sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. (Raffi)