Dalam khutbahnya, Ustadz Ruslan menyoroti fenomena meningkatnya tekanan psikis di tengah masyarakat modern yang bergerak serba cepat dan penuh tuntutan. Ia menyampaikan bahwa banyak orang, khususnya anak muda, terjebak dalam lingkaran kecemasan yang tak jarang berujung pada stres bahkan tindakan-tindakan fatal.
“Kita hidup di zaman yang membuat manusia mudah rapuh secara jiwa dan mental. Banyak yang cemas karena pekerjaan, pendidikan anak, bahkan hidup itu sendiri terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir,” ujarnya.
Ia mengutip sebuah data bahwa 64% penderita gangguan mental ringan hingga berat berada pada rentang usia 18–27 tahun—usia produktif yang seharusnya digunakan untuk berkarya dan membangun masa depan.
Kunci Sehat Mental: Keseimbangan Dunia-Akhirat
Menurut Ustadz Ruslan, akar dari krisis mental tersebut adalah ketidakseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Ia menyampaikan pesan dari seorang psikolog muslim bahwa kesehatan mental sejati hanya bisa dicapai ketika seseorang menempatkan dunia dan akhirat pada porsi yang tepat.
“Dunia ini ladang amal. Kalau kita hanya fokus pada dunia, maka setiap kegagalan terasa seperti akhir dari segalanya. Padahal ada Allah yang lebih besar dari masalah kita,” tegasnya.
Khutbah tersebut juga disertai dengan kutipan Al-Qur’an dari Surah Thaha ayat 124–126 yang menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari peringatan Allah akan mengalami hidup yang sempit, bahkan di akhirat akan dibangkitkan dalam keadaan buta.
“وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا…” (QS Thaha: 124)
Ayat ini, menurut Ustadz Ruslan, menggambarkan kegelisahan dan kehampaan batin sebagai konsekuensi dari menjauhnya manusia dari nilai-nilai Ilahi.
Solusi: Kembali kepada Allah
Sebagai penutup, Ustadz Ruslan mengajak jamaah untuk kembali kepada Allah SWT, memperkuat ibadah dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
“Mari jadikan shalat sebagai tempat mengadu dan dzikir sebagai pelipur lara. Hanya dengan mengingat Allah hati kita bisa benar-benar tenteram,” ucapnya.
Ia juga menekankan bahwa setiap aktivitas duniawi bisa menjadi ibadah jika diniatkan dengan benar dan dijalankan sesuai tuntunan agama.
Khutbah yang sarat makna ini diharapkan mampu menjadi perenungan dan motivasi spiritual bagi para jamaah, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak menyikapi tekanan hidup serta senantiasa menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.