Yogyakarta — Masjid Walidah Dahlan kembali menyelenggarakan Khutbah Jumat pada Jumat, 12 Desember 2025. Bertindak sebagai khatib, Ust. Talqis Nurdiyanto, Lc., M.A., Ph.D., menyampaikan khutbah bertema “Pemimpin yang Adil”, yang menekankan bahwa keadilan merupakan inti dari amanah kepemimpinan dalam Islam.

Ust. Talqis menjelaskan bahwa setiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau kekuasaan, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, keadilan menjadi ruh utama dalam setiap bentuk kepemimpinan.

Khatib menegaskan bahwa adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan hak kepada yang berhak, serta berlaku lurus tanpa pandang bulu. Sikap adil ini harus diwujudkan baik dalam lingkup keluarga, organisasi, maupun kehidupan bermasyarakat. Seorang pemimpin, termasuk kepala keluarga, memiliki kewajiban memastikan bahwa setiap amanah dijalankan dengan benar dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Disampaikan juga bahwa kedudukan pemimpin yang adil sangatlah mulia di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa pemimpin yang adil termasuk golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, sementara pemimpin yang tidak adil akan menghadapi ancaman dan konsekuensi yang berat di akhirat.

Lebih lanjut, Ust. Talqis mengingatkan bahwa untuk mewujudkan kepemimpinan yang adil dibutuhkan ilmu, kehati-hatian, serta kedekatan dengan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW. Seorang pemimpin hendaknya tidak mudah terpengaruh, mampu menahan ego pribadi, serta menjadikan ulama sebagai rujukan dalam mengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan kepentingan umat.

Keadilan, menurut khatib, tidak hanya bersifat lahiriah melalui kebijakan dan keputusan yang adil, tetapi juga bersifat batiniah dengan membersihkan hati dari kebencian, dendam, dan kepentingan pribadi. Pemimpin yang adil adalah mereka yang mencintai kebaikan bagi orang lain sebagaimana mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri.

Menutup khutbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bermuhasabah dan memohon pertolongan Allah SWT agar mampu menunaikan setiap amanah dengan sebaik-baiknya. Dengan menegakkan keadilan mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar, diharapkan tercipta kehidupan yang penuh keberkahan dan diridai oleh Allah SWT.