Ramadhan disebut sebagai bulan yang senantiasa dirindukan oleh seluruh umat muslim. Kehadirannya disambut dengan penuh kegembiraan yang tidak hanya terlihat di lingkungan masjid, tetapi juga berbagai ruang publik seperti pasar tradisional, supermarket, dan pusat perbelanjaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan tidak hanya sekadar peristiwa ibadah puasa, melainkan juga fenomena sosial yang memiliki makna mendalam, yaitu kesempatan untuk menyucikan diri, menguatkan iman, dan memperbaiki akhlak.
Dalam pemaparan materi, Dr. Warsiti menekankan bahwasanya Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi harus menjadi momentum transformasi yang mendorong perubahan, di mana setiap individu memiliki kesempatan untuk memperbaiki karakter, meningkatkan ketaqwaan, dan peningkatan kualitas diri dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan tema Ramadhan yang diusung Masjid Walidah Dahlan, Unisa Yogyakarta, yaitu Equal Piety. Ramadhan mengajarkan tentang kesetaraan bahwa seluruh umat manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT, tanpa memandang jabatan, profesi, ataupun status sosial, baik sebagai dosen, mahasiswa, maupun Masyarakat umum. Semuanya di hadapan Allah itu setara yang membedakannya hanyalah amal ibadah dan tingkat ketaqwaannya terhadap Allah SWT. Konsep tersebut menjadi pengingat bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang menyatukan, bukan membedakan.
Bulan suci Ramadhan juga menjadi sarana latihan dalam membentuk karakter. Pertama, Puasa melatih kejujuran atau integritas, karena dijalankan dengan bahwa Allah selalu mengawasi. Kedua, Salat tarawih melatih konsistensi dan komitmen, salat tarawih mengajarkan untuk konsisten melakukan salat tarawih bukan hanya diawal puasa saja, tetapi hingga puasa selesai. Ketiga, sedekah menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Keempat, tilawah Al-Quran melatih untuk berpikir kritis, menenangkan hati, dan meningkatkan kecerdasan spiritual.
Nilai-nilai tersebut jika diterapkan di kehidupan sehari-sehari akan melahirkan pribadi yang lebih jujur, disiplin, dan meningkatkan kepedulian sosial yang merupakan fondasi penting dalam membangun kehidupan yang lebih harmonis. Selain itu, nilai-nilai dalam Ramadhan mampu menciptakan kemajuan yang bukan hanya dalam ruang spiritual, tetapi juga di kehidupan sosial. Semangat pengendalian diri, kepedulian sosial, dan solidaritas yang tumbuh sepanjang bulan suci Ramadhan menjadi energi moral yang melampaui batas waktu ibadah serta mampu membangun kedekatan kolektif antar sesama.
Dalam kuliah Ramadhan, Dr. Warsiti menyampaikan: “Masjid Walidah Dahlan Unisa Yogyakarta kami hadirkan sebagai ruang ibadah yang ramah bagi semua kalangan, termasuk anak-anak. Di sinilah nilai-nilai keislaman dapat ditumbuhkan sejak dini dalam suasana yang nyaman dan penuh kasih. Ramadhan bukanlah bulan yang menciptakan perbedaan, melainkan bulan yang menyatukan seluruh umat dalam semangat kesalehan dan kebersamaan.” Dalam kutipan tersebut menegaskan peran masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat spiritual, melainkan ruang sosial yang inklusif dan mempersatukan umat.
Melalui kuliah Ramadhan tersebut, para jamaah diajak untuk menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai langkah awal untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik lagi dibandingkan Ramadhan sebelumnya. Ramadhan diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas iman, memperkuat karakter dengan kejujuran, dan mempererat hubungan sosial sesama masyarakat.