“Sesungguhnya aku diberi penyakit karena Allah Maha Penyayang.” Kalimat tersebut mengalun tenang dalam diskusi “Kajian Narasi Senja,” yang diselenggarakan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, tepatnya di Masjid Walidah Dahlan dengan menghadirkan penceramah Bapak Yasin Syarif Hidayatullah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, merujuk pada ketabahan Nabi Ayyub AS. sebagai pengingat bahwa penderitaan fisik, sedalam apa pun, tidak pernah membuat Tuhan melupakan hamba-Nya, melainkan bentuk kasih sayang Allah untuk hamba-Nya. Namun, bagaimana jika penderitaan itu datang dari ketidaksesuaian antara apa yang dirasakan jiwa dengan apa yang terlihat oleh raga? Hal inilah yang sering disebut sebagai fenomena “Salah Body”.

Konflik di Dalam Diri: Mengapa Bisa Terjadi?

Dalam ilmu psikologi, kondisi ini dikenal sebagai Gender Incongruence. Bukan hanya sekadar tren, tetapi merupakan konflik kognitif yang nyata sejak usia dini. Skema Gender internal yang tumbuh di dalam pikiran, tetapi tidak ada kecocokan dengan tubuh biologis. Alhasil sering disebut sebagai Cognitive Dissonance sebuah perang batin antara “Siapa saya yang sebenarnya” melawan “Narasi tubuh yang terlihat.”

“Risiko kesehatan mental meningkat terutama disebabkan oleh stereotip negatif atau pelabelan sosial dan marginalisasi, bukan semata-mata karena identitas gender itu sendiri,” tuturnya.

Data menunjukkan bahwa penderitaan psikologis tanpa penanganan yang tepat, mereka yang mengalami kondisi ini akan beradapan dengan:

  1. Depresi Mayor dan Gangguan Kecemasan: Beban emosional yang terjadi secara terus-menerus.
  2. Self-Harm dan Ideasi Bunuh Diri: Puncak dari rasa lelah terhadap penolakan lingkungan yang telah dialaminya.

Faktor pemicunya antara lain: mulai dari penolakan keluarga inti hingga bullying di ruang publik. Luka ini diperparah oleh Internalized Stigma, kondisi di mana si penyintas mulai mempercayai label-label negatif tentang dirinya sendiri.

Tips Membangun Benteng Pertahanan Diri

Dalam diskusi ini juga menawarkan solusi bagi para penyintas untuk tetap tegak berdiri sebagai langkah penguatan diri melalui empat langkah psikologis:

  1. Memisahkan Identitas dari Distress: Menyadari rasa sakit (distress) yang dirasakan hanyalah bagian dari perjalanan, bukan definisi identitas mutlak Anda sebenarnya.
  2. Latihan Self-Compassion: Di dunia yang tempatnya manusia mungkin menghakimi, jadilah orang pertama yang memeluk diri sendiri dengan kasih sayang dan berhenti menyalahkan diri sendiri.
  3. Pengelolaan Body Dysphoria Bertahap: Mengelola Body Dysphoria atau ketidaknyamanan pada tubuh tidak bisa dilakukan secara instan. Lakukan langkah-langkah kecil tetapi suportif.
  4. Menjadi Identitas Multi-Dimensi: Jangan biarkan satu aspek identitas menelan seluruh potensi Anda. Fokus pada potensi dalam diri anda, kembangkan bakat, hobi, dan peran sosial lainnya.

Kondisi Salah Body memerlukan perpaduan antara ilmu pengetahuan dengan empati yang tinggi. Dengan penanganan psikologis yang tepat, risiko kesehatan mental dapat diminimalisir, sehingga memberikan ruang untuk setiap individu berkarya dan bertaqwa sesuai dengan kondisinya masing-masing.