Tidak semua ruang dakwah yang terbuka bagi perempuan hari ini hadir tanpa proses. Hal ini menjadi refleksi dalam Kuliah Ramadhan hari ke-3 di Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, yang disampaikan oleh Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. dengan tema “Ruang Publik dan Kesalehan: Peran Warga dalam Menjaga Peradaban.”
Dalam kajiannya, beliau mengajak jamaah menelusuri salah satu peristiwa penting dalam sejarah Muhammadiyah, yakni Muktamar Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi pada tahun 1930. Pada forum tersebut, muncul perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai boleh atau tidaknya perempuan menyampaikan pidato di hadapan forum umum yang juga dihadiri laki-laki. Sebagian kalangan pada masa itu berpendapat bahwa perempuan tidak diperkenankan berpidato di ruang publik dan hanya diperbolehkan berbicara di lingkungan sesama perempuan.
Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam dakwah merupakan bagian dari proses sosial dan keagamaan yang berkembang secara bertahap. Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan, para tokoh perempuan ‘Aisyiyah tetap aktif dalam kegiatan dakwah, pendidikan, dan organisasi. Mereka terus menyampaikan gagasan dan berkontribusi melalui forum-forum perempuan, serta berperan dalam mendukung kegiatan dakwah dan perkembangan organisasi.
Secara historis, ‘Aisyiyah didirikan pada tahun 1917 sebagai organisasi perempuan yang berfokus pada dakwah dan pendidikan. Gerakan ini menjadi salah satu pelopor dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan Muslim di Indonesia. Melalui pendekatan dakwah yang berbasis ilmu dan pendidikan, ‘Aisyiyah berkontribusi dalam membentuk masyarakat Islam yang berkemajuan.
Perjuangan tersebut menjadi bukti bahwa ruang publik memiliki peran penting dalam menjaga peradaban. Kesalehan tidak hanya diwujudkan dalam ibadah individual, tetapi juga melalui kontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat. Dakwah, pendidikan, dan pengembangan lembaga Islam menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai Islam agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Saat ini, hasil dari perjuangan tersebut dapat dirasakan secara nyata. Perempuan tidak hanya menjadi bagian dari jamaah, tetapi juga menjadi penggerak dakwah, pengelola lembaga pendidikan, dan pelopor dalam berbagai amal usaha Islam. Keberadaan masjid dan perguruan tinggi yang dikelola oleh perempuan menjadi simbol bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga dan membangun peradaban Islam.
Kajian ini menjadi pengingat bahwa peradaban tidak dibangun secara instan, melainkan melalui perjuangan, keberanian, dan komitmen yang berkelanjutan. Semangat yang ditunjukkan oleh para tokoh perempuan ‘Aisyiyah menjadi inspirasi bahwa setiap umat memiliki peran dalam menjaga peradaban, melalui ilmu, dakwah, dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.