Perbedaan pada tumpukan informasi, sejarah, budaya, dan lingkungan setiap individu seringkali menjadi pemicu perbedaan hingga menimbulkan ketegangan dan perpecahan. Dalam sebuah kultum inspiratif, Dr. Adib Sofia, S.S., M.Hum. membedah bagaimana Islam hadir bukan untuk menyeragamkan tumpukan isi gudang tersebut, melainkan sebagai jembatan dalam membangun budaya damai di tengah masyarakat majemuk.

Mengapa Intoleransi Muncul?

Dr. Adib menjelaskan akar masalah mengapa intoleransi sering terjadi. Ternyata, intoleransi seringkali muncul dari pola pikir atau cara pandang yang keliru di dalam pikiran kita sendiri hingga menimbulkan tindakan intoleran di tengah masyarakat yang majemuk:

  1. Superioritas Diri: Menganggap diri sendiri paling benar, sementara orang lain yang berbeda dianggap aneh.
  2. Mentalitas Kelompok: Menciptakan tembok pembatas tegas antara “aku” dan “kamu” atau “kelompokku” dan “kelompokmu” yang menimbulkan hilangnya rasa empati.
  3. Meminggirkan Sesama: Menganggap orang di luar kelompok atau di luar lingkarannya tidak penting untuk berada di luar arena utama.
  4. Krisis Kelayakan: Merasa hanya diri atau kelompoknya yang hebat dan layak, sedangkan kelompok lain dipandang sebelah mata dan tidak berharga

Intoleransi diimulai ketika kita berhenti melihat manusia lain sebagai sesama manusia yang setara dengan kita,” tuturnya.

Meneladani Kisah Nabi Sang Pencerah

Menghadapi tantangan tersebut, Dr. Adib menegaskan pentingnya kembali meneladani gaya kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah tidak hanya sekadar membawa risalah, tetapi juga mengajarkan kita melalui kisah atau cerita nyata tentang bagaimana cara hidup berdampingan.

Islam yang merangkul adalah Islam yang mampu memandang perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai ketegangan hingga ancaman. Meneladani Nabi berarti mengedepankan perdamaian, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia, tanpa memandang apa latar belakang mereka. Inilah pondasi utama dalam berinteraksi dengan siapapun untuk menciptakan kedamaian tanpa memandang isi gudang kepala yang dimiliki.

 

Menciptakan budaya damai dimulai dari kesadaran bahwa kita semua berbeda. Dengan menghapus ego dan prasangka buruk, kita dapat mewujudkan masyarakat yang tidak hanya toleran, tapi juga saling menguatkan.