Dunia sebelum datangnya agama Islam berada dalam dekapan kegelapan yang pekat. Bukan sebagai kegelapan tanpa cahaya lampu, melainkan kegelapan jiwa yang sering kita kenal sebagai masa Jahiliyah. Dalam Kuliah Ramadhan, Ustadz Fajar Rachmadhani membedah akar persoalan bagaimana Al-Qur’an hadir bukan hanya sebagai kitab suci, melainkan sebagai petunjuk atau pedoman yang membawa manusia keluar dari krisis moralitas, seperti penindasan gender, mabuk-mabukan, penyimpangan moral atau LGBT, dan perzinaan menuju puncak peradaban.

Ustadz Fajar menekankan bahwa zaman Jahiliyah adalah kisah nyata dari krisis intelektualitas, moralitas, dan nilai. Sebelum Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan wahyu, manusia terjebak dalam perilaku yang merendahkan martabat:

  • Penindasan dan ketidakadilan gender yang ekstrem.
  • Tradisi keji mengubur bayi perempuan hidup-hidup.
  • Gaya hidup destruktif seperti khamr (miras), perzinaan, hingga penyimpangan perilaku (LGBT).

“Islam datang untuk mengubah segalanya,” tegas Ustadz Fajar. Perubahan itu dimulai dengan satu kunci utama, yaitu Wahyu.

Rahasia di Balik Wahyu Pertama Iqra

Mengapa wahyu pertama yang turunkan Allah SWT adalah Surah Al-Alaq ayat 1-5? Dan mengapa perintah pertamanya adalah “Bacalah” (Iqra) dan bukan “Sembahlah” atau “Shalatlah”?

Ustadz Fajar menyampaikan hal di atas merupakan isyarat tegas bahwa Islam adalah agama ilmu yang mendorong peradaban. Islam mendorong umatnya untuk terus mengoptimalkan akal pikiran yang telah dianugerahkan Allah. Namun, terdapat catatan penting dalam penyampaian wahyu tersebut:

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Besar.”

Peradaban yang hakiki tidak akan terwujud tanpa totalitas ilmu dan iman. Membaca (belajar) tanpa melibatkan Allah hanya akan melahirkan kemajuan tanpa moralitas.

 

Tapi, Mengapa Peradaban Islam Saat Ini Terasa Mundur?

Pertanyaan reflektif muncul yang dilontarkan Ustadz Fajar: Kenapa saat ini peradaban lain lebih unggul dibanding umat Islam?

Ustadz Fajar memberikan jawaban yang menohok. Semangat Iqra (membaca) saat ini justru lebih banyak diadopsi oleh dunia Barat. Tetapi, perbedaannya terletak pada landasannya. Mereka hanya mengambil “Iqra”-nya, tetapi melepaskan kaitan dengan Tuhan Yang Maha Besar. Sedangkan, sebagian umat Muslim mulai meninggalkan budaya Iqra (membaca). Padahal, peradaban yang unggul tidak akan pernah terwujudkan jika iman, akal, dan ilmu tidak berjalan berdampingan. Tanpa ketiganya, peradaban hanya akan menjadi sebuah mimpi dan kenangan masa lalu.

Janji Allah dalam Surah Al-Mujadalah Ayat 11

Sebagai motivasi bagi umat, Ustadz Fajar mengulas janji Allah SWT dalam QS. Al-Mujadalah: 11 sebagai kunci kebangkitan:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ayat tersebut merupakan rumus kejayaan dunia dan akhirat:

  1. Iman: Sebagai kompas dan pondasi moral agar ilmu pengetahuan tidak disalahgunakan.
  2. Ilmu: Sebagai alat penggerak untuk membangun peradaban dunia.

Orang yang memiliki keduanya akan dimuliakan bukan hanya di hadapan Allah di akhirat kelak, tapi juga di mata manusia di dunia.

Di era digital saat ini, tantangan kebodohan model baru disebut dengan Jahiliyah modern. Hoaks, krisis moralitas di media sosial, dan pendangkalan makna hidup yang merajalela saat ini hanya bisa dilawan dengan kembali ke dalam makna dari Al-Qur’an itu sendiri. Amanah utama Ustadz Fajar dalam kuliah Ramadhan sangat jelas, yakni Kembalilah pada semangat Iqra yang berlandaskan Bismi Rabbika (dengan nama Tuhanmu).

Ayo kita jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya menuju peradaban. Jangan hanya sekadar membacanya secara lisan, tapi “bacalah” dengan ilmu pengetahuan yang diiringi dengan keimanan yang kokoh. Sebab, peradaban tanpa ilmu akan lumpuh, dan ilmu tanpa iman akan rusak moralitasnya.