Perubahan zaman telah menghadirkan tantangan baru dalam kehidupan keluarga Muslim, khususnya dalam mendidik generasi Alpha yang tumbuh bersama teknologi. Generasi ini lahir dalam dunia yang telah dipenuhi oleh layar, internet, dan media sosial, sehingga gawai bukan lagi sekadar alat, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian mereka sejak usia dini.
Dalam kajian yang disampaikan oleh Dr. Nur Kholis S.Ag., M.Ag., ditegaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat jelas kepada orang-orang beriman agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Peringatan ini bukan hanya berbicara tentang kehidupan akhirat yang jauh, tetapi juga tentang ancaman yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Di era digital saat ini, api itu dapat hadir melalui media sosial yang tidak terkontrol, melalui algoritma yang diam-diam membentuk cara berpikir, kebiasaan, dan nilai anak-anak.
Generasi Alpha: Cerdas Teknologi, Rentan Nilai
Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang sepenuhnya digital. Mereka sangat cepat memahami teknologi, bahkan mampu menggunakan perangkat sebelum mampu membaca dengan baik. Mereka adalah generasi visual yang lebih mudah belajar melalui gambar dan video dibandingkan teks. Mereka memiliki keunggulan dalam memahami perkembangan global, peduli pada lingkungan, dan cepat beradaptasi dengan perubahan.
Namun, di balik keunggulan tersebut, terdapat tantangan yang tidak kecil. Ketergantungan pada gawai dapat membuat mereka kurang peka secara sosial, berkurangnya empati, mudah bosan, dan rentan terhadap tekanan mental. Kedekatan yang berlebihan dengan layar dapat menjauhkan mereka dari nilai-nilai spiritual jika tidak diarahkan dengan bijak.
Teknologi pada dasarnya bukan musuh. Ia adalah alat. Namun, tanpa bimbingan, alat tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi krisis nilai dan spiritualitas.
Dari Larangan Menuju Pendampingan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ketika orang tua langsung melarang tanpa memahami dunia anak. Larangan tanpa pendampingan justru dapat menciptakan jarak, bahkan mendorong anak untuk menyembunyikan kebiasaannya.
Pendekatan yang lebih bijak adalah dengan mendampingi. Duduk di samping anak, melihat apa yang mereka tonton, dan memahami dunia mereka. Ketika orang tua masuk ke dunia anak, di situlah kesempatan untuk mengarahkan terbuka. Bimbingan tidak lahir dari jarak, tetapi dari kedekatan.
Selain itu, penting bagi orang tua untuk menyediakan alternatif kegiatan yang bermanfaat. Anak tidak cukup hanya dilarang, tetapi juga perlu diarahkan kepada aktivitas yang membangun, baik secara intelektual maupun spiritual.
Batasan dan Keteladanan: Kunci Pendidikan yang Nyata
Batasan yang jelas dan konsisten menjadi bagian penting dalam pendidikan. Menentukan waktu penggunaan gawai dan menciptakan zona bebas HP di rumah merupakan bentuk perlindungan, bukan pembatasan. Konsekuensi atas pelanggaran perlu diterapkan secara konsisten sebagai bagian dari pembelajaran tanggung jawab.
Namun, yang paling utama adalah keteladanan. Anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi dari apa yang mereka lihat. Orang tua yang sibuk dengan gawai, bahkan dalam waktu ibadah, tanpa sadar sedang memberikan contoh. Pendidikan yang paling kuat bukanlah nasihat, tetapi teladan.
Kembali pada Peran sebagai Penjaga Amanah
Anak adalah amanah, dan orang tua adalah penjaganya. Di tengah derasnya arus teknologi, peran orang tua menjadi semakin penting, bukan untuk menjauhkan anak dari teknologi, tetapi untuk membimbing mereka agar tetap berada dalam nilai-nilai keimanan.
Media sosial dapat menjadi jalan menuju kebaikan atau sebaliknya, tergantung pada bagaimana ia digunakan dan diarahkan. Karena itu, tanggung jawab orang tua bukan hanya memastikan anak tumbuh cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat secara iman.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sejati bukan terletak pada seberapa cepat anak menguasai teknologi, tetapi seberapa kuat mereka berpegang pada nilai-nilai yang akan menyelamatkan mereka, di dunia dan di akhirat.