Kebiasaan manusia yang jarang berdoa kecuali saat menghadapi kesulitan menjadi fenomena yang patut direnungkan. Dalam Kuliah Ramadan di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Dr. Basyir Ali Al Qunaidy, dosen tamu dari Fakultas Syariah Misurata University, menegaskan bahwa doa bukan hanya permohonan saat membutuhkan, tetapi merupakan bentuk ibadah yang seharusnya senantiasa diamalkan oleh setiap Muslim.

Allah Maha Dekat dengan Hamba-Nya

Dalam kajian tersebut, Dr. Basyir Ali Al Qunaidy menjelaskan kisah seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah Allah itu dekat sehingga kami cukup berdoa dengan suara pelan, atau jauh sehingga kami harus memanggil-Nya dengan suara keras?” Pertanyaan ini menunjukkan keinginan para sahabat untuk memahami bagaimana cara berdoa yang benar kepada Allah.

Menjawab pertanyaan tersebut, Allah menurunkan firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 186:

“Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”

Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Dekat dengan hamba-Nya. Setiap doa, keluh kesah, dan harapan dapat disampaikan langsung kepada-Nya tanpa perantara. Berbeda dengan ayat lain yang memerintahkan Rasulullah untuk menjawab pertanyaan umat, pada ayat ini Allah langsung menjawab dengan firman-Nya, “Aku dekat.” Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara hamba dan Allah bersifat langsung, sehingga setiap Muslim dapat berdoa kapan saja dan dalam keadaan apa pun

Doa sebagai Kewajiban dan Bentuk Penghambaan

Beliau menegaskan bahwa doa merupakan bagian dari penghambaan seorang hamba kepada Allah. Doa bukan sekadar permohonan ketika membutuhkan sesuatu, tetapi menjadi bentuk ketundukan dan kedekatan spiritual antara manusia dan Tuhannya.

Selain doa dalam bentuk permohonan, zikir juga termasuk bagian dari doa. Membaca basmalah, zikir pagi dan petang, serta kalimat tauhid merupakan bentuk komunikasi spiritual yang memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ghafir ayat 60:

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka dalam keadaan hina.”

Ayat ini menegaskan bahwa doa merupakan bagian dari ibadah dan bentuk ketundukan seorang hamba kepada Allah. Melalui doa dan zikir, seorang Muslim senantiasa mengingat Allah serta meneguhkan ketergantungannya kepada-Nya dalam setiap keadaan.

Beliau juga menekankan bahwa kesungguhan dalam berdoa akan mendatangkan kebaikan. Allah tidak hanya mendengar doa hamba-Nya, tetapi juga dapat memberikan sesuatu yang lebih baik dari apa yang diminta, sesuai dengan hikmah dan kasih sayang-Nya.

Keteladanan Nabi dalam Berdoa

Sebagai contoh, beliau mengisahkan Nabi Yunus AS yang berdoa ketika berada dalam kegelapan perut ikan paus. Dalam kondisi penuh kesulitan, Nabi Yunus memanjatkan doa:

“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87)

Allah kemudian mengabulkan doa tersebut dan menyelamatkan Nabi Yunus. Kisah ini menunjukkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan keikhlasan dan keyakinan menjadi jalan pertolongan dari Allah.

Doa Tidak Pernah Sia-sia

Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak berhenti berdoa hanya karena merasa doa belum dikabulkan. Doa itu sendiri sudah bernilai ibadah, dan setiap doa pasti didengar oleh Allah. Terkadang, Allah mengabulkan doa dengan cara yang berbeda, memberikan yang lebih baik, atau menundanya pada waktu yang paling tepat.

Karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk terus berdoa, terutama di bulan Ramadan, yang merupakan waktu penuh keberkahan dan kesempatan besar untuk memperoleh ampunan Allah.

Ramadan sebagai Momentum Memperbanyak Ibadah

Di akhir ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk memanfaatkan bulan Ramadan dengan memperbanyak doa, terutama pada sepuluh malam terakhir dan waktu-waktu mustajab seperti saat berbuka puasa dan sepertiga malam terakhir.

Ramadan menjadi kesempatan istimewa untuk memperkuat hubungan dengan Allah, meningkatkan kualitas ibadah, dan menumbuhkan kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Kajian ini menegaskan bahwa doa merupakan inti dari hubungan antara manusia dan Allah. Kedekatan Allah dengan hamba-Nya memberikan keyakinan bahwa setiap doa didengar dan memiliki nilai ibadah. Ramadan menjadi momentum terbaik untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Melalui doa, seorang hamba tidak hanya memohon pertolongan, tetapi juga meneguhkan keimanan, memperkuat ketergantungan kepada Allah, dan menemukan ketenangan dalam menjalani kehidupan.