Dr. Nur Kholis, S.Ag., M.Ag. Wakil Rektor Universitas Ahmad Dahlan
Dalam paparannya, aktivis intelektual modernis di lingkungan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, menekankan bahwa Al-Qur’an tidak turun dalam ruang hampa (vacuum). Ia menyampaikan bahwa ayat-ayat suci Al-Qur,an hadir sebagai respons revolusioner terhadap realitas sosial yang penuh ketimpangan ini. Dosen senior di Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan menguraikan bahwa perempuan di masa Jahiliyah sangat kelam, di mana muncul istilah taraqus yang menjadi salah satu latar belakang sosiopolitik suku Quraisy yang mencerminkan kondisi martabat perempuan sering kali diperalat dan dieksploitasi hanya demi status sosial.
“Islam datang bukan untuk melanggengkan tradisi itu, melainkan untuk meruntuhkannya secara total,” tegas pakar Tafsir Al-Qur’an dalam Kuliah Ramdhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa.
Aktivis Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY menegaskan jamaah bahwa Allah SWT menciptakan manusia dalam derajat yang sama dan setara. Ia merujuk pada landasan QS. Al-Hujurat: 13 untuk menekankan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah hanyalah dari kualitas ketakwaannya, bukan ditentukan oleh jenis kelamin, kelas sosial, maupun suku bangsa. Salah satu poin krusial yang disampaikan oleh pakar kajian Studi Gender dan Islam ini adalah pelurusan makna mengenai penciptaan perempuan. Dr. Nur Kholis menjelaskan analisis kritis terhadap pemahaman tekstualis yang sering menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok secara harfiah. Menurutnya, konsep tersebut harus dibaca sebagai simbol perlindungan dan kelembutan, bukan justifikasi atas marjinalitas dan kelemahan intelektual perempuan.
“Secara ontologis, laki-laki dan perempuan berasal dari zat yang sama, yaitu nafs wahidah (jiwa yang satu). Tidak ada hierarki esensial dalam penciptaan manusia,” imbuh jajaran Majelis Tabligh pada 01 Maret 2026.
Akademisi yang aktif menyuarakan visi Islam Berkemajuan ini membedah manifestasi marjinalisasi perempuan yang terjadi di masa-masa setelah generasi awal Islam. Dr. Nur Kholis memprihatinkan kondisi merumahkan perempuan, padahal perempuan memegang peran intelektual yang sangat besar, termasuk sebagai periwayat hadis yang mumpuni. Dalam konteks ibadah bulan suci Ramadhan, Dr. Nur Kholis menegaskan bahwa kewajiban puasa, peluang meraih pahala, dan jalan kedekatan dengan Tuhan tidak dibedakan oleh gender. Jika perempuan dan laki-laki berniat dan berdoa dengan tulus, maka keduanya memiliki peluang yang sama atas doanya untuk diijabah oleh Allah SWT.
Akademisi yang produktif mendedikasikan gagasan tentang Islam Berkemajuan menyempurnakan bahwa secara biologis, perbedaan laki-laki dan perempuan memang ada pada fungsi reproduksi seperti hamil dan melahirkan. Namun, tugas-tugas fungsional seperti memasak atau mengurus rumah tangga bukanlah kodrat seorang perempuan, melainkan hal yang dapat dimusyawarahkan (muasyarah bil ma’ruf).
Dalam menutup kajiannya, tokoh yang sering diundang sebagai narasumber nasional di berbagai forum Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ini menyampaikan analogi yang penuh makna tentang relasi gender: Filosofi Dua Sayap Merpati.
“Laki-laki dan perempuan adalah dua sayap yang harus berjalan seirama. Tidak ada yang lebih hebat antara sayap kanan atau kiri. Jika keduanya saling bekerjasama dan menghargai tanpa ada perbedaan hierarkis, maka akan mampu terbang tinggi untuk menggapai rida Allah. Namun, jika salah satu sayap dikekang atau merasa paling dominan, maka untuk terbang pun ia tidak akan sanggup,” tutup pakar Tafsir Tematik dan Ulumul Qur’an.
Melalui amanah liberatif ini, Dr. Nur Kholis mengajak untuk kembali membaca Al-Qur’an dengan hati yang bersih dari bias gender. Ia berharap agar spirit Ramadhan tahun ini dapat melakukan transformasi nyata dalam perspektif umat terhadap perempuan, membangun kerjasama yang lebih harmonis dan sinergis demi mewujudkan masyarakat yang adil dan berkemajuan. (puji).

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: