Prof. Dra. Siti Syamsiyatun, M.A., Ph.D. Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- Di tengah era disrupsi zaman yang semakin kompleks, reorientasi peran perempuan dalam ruang islam publik menjadi diskusi yang fundamental. Islam tidak hanya hadir sebagai ruang ibadah privat antara individu dengan Tuhan-Nya, tetapi harus mampu merealisasikan dalam perilaku sosial yang berdampak nyata untuk masyarakat. Hal tersebut diungkap dalam Kuliah Ramadhan yang bertema “Islam Publik: Peran Perempuan dalam Membangun Ruang Sosial Berkeadaban” disampaikan oleh Prof. Dra. Siti Syamsiyatun, M.A., Ph.D. merupakan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga pada Senin 02 Maret 2026, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1447 H.

Prof. Siti yang merupakan intelektual yang telah lama mengabdikan hidupnya pada fokus kajian gender dan Islam, mengajak kita untuk mengamati ulang representasi agama islam dalam ruang publik.

Memahami Islam Publik vs Islam Privat

Dalam pemaparannya, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menegaskan perbedaan mendasar antara islam privat dengan islam publik, tetapi saling melengkapi antara aspek spiritualitas.

  1. Islam Privat: Merupakan area personal yang mengatur hubungan pribadi antara individu dengan Allah SWT dalam konteks ibadah.
  2. Islam Publik: Merupakan perwujudan nilai-nilai Islam dalam interaksi sosial di ruang publik. Di sinilah agama islam memberi kontribusi secara nyata untuk kesejahteraan masyarakat luas.

“Ruang sosial adalah ruang bertemu dan berinteraksi. Kehadiran perempuan di dalamnya bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu kualitas peradaban tersebut,” ujar pakar pada bidang Ilmu Kajian Islam dan Gender di UIN Sunan Kalijaga pada Kuliah Ramadhan Masjid Walidah Dahlan Unisa.

Tiga Pilar Peran Strategis Perempuan ‘Aisyiyah dalam Ruang Publik

Merujuk pada sejarah dalam membedah peran perempuan, Direktur Indonesian Center for Arabic Agriculture (ICAA) pada tahun 2010-1019 memandang rekam jejak organisasi perempuan ‘Aisyiyah sebagai prototipe gerakan perempuan yang berkeadaban. Ia mengintegrasikan tiga peran utama ‘Aisyiyah dalam membangun ruang publik yang berkeadaban:

  1. Pelopor Keadilan Sosial: Prof Siti memandang ‘Aisyiyah bukan hanya sekadar organisasi perempuan, melainkan ruang kedaulatan. Berdasarkan sejarah ‘Aisyiyah perempuan diberikan ruang kedaulatan untuk berdaya, menyuarakan keadilan, dan memastikan hak-hak perempuan tidak terpinggirkan, namun dapat terpenuhi dalam struktur sosial.
  2. Penyuluh Literasi dan Pendidikan yang Inklusivitas: Kehadiran perempuan di ruang sosial sangat mempengaruhi kenyamanan dan infrastruktur publik. Perempuan mampu membangun fondasi agama dan sosial melalui pendidikan. Keterlibatan yang signifikan ini mampu menciptakan fasilitas publik yang inklusif, seperti masjid yang ramah anak, ramah perempuan, hingga aksesibel bagi penyandang disabilitas.
  3. Penggerak Modifikasi Sosial: Perempuan bertindak sebagai agen perubahan dan fasilitator yang luwes serta mampu memodifikasi tatanan sosial, sehingga dapat mengadaptasi nilai-nilai Islam sesuai tantangan zaman sehingga tetap membuat agama islam relevan di era modernitas.

Sinergi Menuju Kebahagiaan Hakiki

Pakar dalam studi Inter-Faith Dialogue (Dialog Antariman) menegaskan bahwa optimalisasi peran perempuan tidak dapat dipisahkan dari peran strategis dengan laki-laki. Perjuangan perempuan bukan langkah untuk berjalan sendiri

“Peran perempuan akan optimal jika bekerja sama yang sinergis dengan laki-laki. Bahkan secara teologis dan psikologis, seorang laki-laki akan menemukan kebahagiaan sejati justru ketika ia mampu membahagiakan perempuan atau istrinya,” tegas Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Sinergi itulah yang merupakan kunci utama untuk membangun masyarakat yang beradab. Peran strategis perempuan dalam ruang sosial bukan lagi menjadi wacana, melainkan mandat iman yang harus terus diperjuangkan. (puji).

 

 

 

 

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: