Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN.Eng. Rektor UMY periode 2016-2024
YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- Di tengah pesatnya perkembangan revolusi industri 4.0 dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), sektor pertanian mulai bertransformasi dari sentuhan tangan manusia menuju ke arah sistem otomatis penuh. Tetapi, di balik efisiensi mesin, terdapat filosofi mendalam tentang asal-usul manusia yang tak boleh terlupakan. Dalam sebuah pemaparan Kuliah Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa pada 03 Maret 2026 bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 Hijriah, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN.Eng. yang merupakan Rektor UMY periode 2016-2024, mengajak kita menelaah kembali kaitan erat antara eksistensi manusia, tanah, dan tantangan etika di masa depan pada era Artificial Intelligence (AI).
Filosofi Tanah: Rahim Kehidupan
Guru Besar pada bidang Ilmu Tanah menekankan bahwa pemahaman tentang pertanian harus dimulai dari pemahaman tentang asal usul manusia itu sendiri. Dalam Al-Qur’an pada QS. Al-Mu’minun ayat 12, menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan saripati tanah (sulalatin min thin). Secara teknikal, Wakil Ketua Majelis dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 2010-2015 menyampaikan bahwa tanah bukan hanya sekadar kotoran di bawah telapak kaki kita. Namun, tanah merupakan laboratorium kimia raksasa.
- Partikel Fisik: Terdiri dari pasir, debu, lempung, dan liat.
- Partikel Lempung: Mempunyai diameter terkecil namun kedudukan paling istimewa. Lempung adalah gudang istimewa yang menyimpan unsur hara seperti Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), dan Karbon (C).
- Humus dan Warna Hitam: Ketika saripati tanah bertemu dengan air dan bahan organik, muncul warna hitam yang menandakan kesuburan (humus).
Warna hitam pada tanah yang subur menandakan adanya humus. Humus merupakan simbol kesuburan tanah sekaligus awal mula nutrisi yang diserap manusia melalui rantai pangan. Prof. Gunawan menegaskan bahwa manusia yang berasal dari tanah, hidup dari hasil tanah, dan pada akhirnya akan kembali ke dalam tanah sebagai bagian dari siklus alam yang telah ditetapkan Sang Pencipta.
Pertanian Era AI: Solusi atau Ancaman?
Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada periode 2015-1014 menegaskan bahwa saat ini minat generasi muda terhadap sektor pertanian konvensional menurun drastis. Inovasi yang ditawarkan oleh generasi muda ini adalah penggunaan sensor, robotika, dan teknologi kecerdasan buatan untuk menggantikan peran manusia di bidang petanian yang terjun langsung di lapangan. Tetapi, Prof. Gunawan menyampaikan catatan kritis:
“Suatu saat, manusia bisa ‘dibunuh’ oleh teknologi yang mereka ciptakan sendiri. Kecerdasan buatan yang tidak terkendali berpotensi menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan (dehumanisasi),” tegas Guru Besar bidang Ilmu Tanah pada Kuliah Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa tanggal 03 Maret 2026.
Ia menggarisbawahi bagaimana peran teknologi mulai menggeser interaksi alami manusia. Bayi kini lebih banyak bersentuhan dengan instrumen elektronik daripada pelukan hangat orang tua. Ratusan penerbit buku bangkrut karena minat baca fisik hilang, digantikan oleh arus informasi instan di layar telepon genggam.
Peran Manusia Adalah Mengendalikan Teknologi Bukan Dikendalikan
Kekhawatiran terbesar bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada hilangnya kontrol manusia terhadap pesatnya perkembangan teknologi. Jika AI mengambil alih seluruh proses kehidupan, termasuk pertanian tanpa menyisakan ruang untuk manusia denagn nilai spiritualitas dan etika, maka manusia hanya akan menjadi penonton di bumi yang dulu dikelolanya.
Prof. Gunawan dalam Kuliah Ramadhan mengamanahkan supaya orang tua dan tenaga pendidik berperan aktif untuk mengendalikan penggunaan teknologi pada anak.
“Jangan sampai kita menciptakan mesin yang cerdas, tapi mematikan nilai-nilai kemanusiaan seperti kesabaran, rasa syukur, dan kerja keras itu sendiri,” tutupnya.
Pada akhirnya, manusia tidak akan kembali ke dalam server digital, melainkan kembali ke asal mulanya, yakni tanah lempung. (puji).

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: