YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta- menyelenggarakan Shalat Gerhana Bulan Total (Shalat Khusuf) pada Selasa (03/03/2026) bertepatan dengan 14 Ramadan 1447 H. Kegiatan yang dilaksanakan setelah salat Magrib pukul 18.30 WIB ini diikuti oleh jamaah dari civitas akademika UNISA serta masyarakat sekitar.

Shalat khusuf tersebut dipimpin oleh Zuhud Abdillah, mahasiswa S1 Teknologi Informasi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNISA Yogyakarta sebagai imam. Sementara khutbah disampaikan oleh Drs. Muhammad Jarir selaku Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mlangi Besar.

Dalam khutbahnya, Drs. Muhammad Jarir menyampaikan pesan refleksi spiritual melalui fenomena gerhana bulan.

Menemukan Pantulan Iman Dalam Fenomena Gerhana Bulan: Antara Ketaatan Semesta Dan Ibrah Di Balik Gelap

Alam semesta merupakan buku panduan terbuka yang memaparkan ayat-ayat kebesaran Allah SWT. Salah satu hal yang paling menakjubkan adalah fenomena gerhana bulan. Saat bulan perlahan tertutup bayangan, terdapat pesan spiritual yang samar-samar menyapa jiwa manusia, bahwa alam semesta tidak pernah berjalan sendirian. Dalam khutbah shalat Gerhana Bulan total di Masjid Walidah Dahlan Unisa pada 03 Maret 2026 yang disampaikan oleh Drs. Muhammad Jarir selaku Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mlangi Besar yang menguraikan bahwa gerhana bulan bukan hanya sekadar peristiwa oposisi astronomis antara matahari, bumi, dan bulan, melainkan, gerhana bulan adalah alarm bagi manusia secara spiritual yang sedang terlelap untuk segera memperbanyak ibadah. Mengutip QS. Yasin ayat 38, Drs. Muhammad Jarir menegaskan bahwa matahari dan bulan memiliki garis edar (falak) yang sangat presisi. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” QS. Yasin 38.

Datangnya gerhana yang terjadi secara periodik tetapi tidak setiap hari, menurut Muhammad Jarir, gerhana adalah cara Allah menunjukkan bahwa Allah adalah pemegang kendali mutlak. Jika Allah berkehendak menghentikan atau mengubah sedikit saja rotasi tersebut, maka hancurlah tatanan kehidupan. Maka dari itu, gerhana merupakan momentum untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat gerhana, dzikir, dan sedekah agar menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan-Nya.

Ibadah di Tengah Keheningan

Rasulullah SAW telah memberikan pedoman yang jelas saat gerhana terjadi. Rasulullah SAW bersabda bahwa fenomena gerhana bulan ini bukanlah pertanda kematian, kelahiran seseorang dan pertanda buruk, melainkan tanda kebesaran Allah.

Drs. Muhammad Jarir menegaskan tiga pilar Ibadah Hening saat terjadinya gerhana bulan:

  1. Dzikir dan Doa: Menghubungkan nilai spiritualitas manusia dengan Sang Pencipta di tengah kegelapan fenomena gerhana bulan.
  2. Shalat Khusuf: Shalat sebagai bentuk pengakuan atas kelemahan hamba.
  3. Sedekah: Sebagai cahaya bagi sesama di saat bulan kehilangan cahayanya.

“Gerhana mengajak kita untuk merenung sejenak dari kesibukan duniawi. Ini adalah momentum di mana kita menatap langit, namun sejatinya sedang menatap ke dalam lubuk hati kita sendiri,” ujar Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Mlangi Besar pada 03 Maret 2026.

Cahaya di Balik Cobaan

Filosofi gerhana bulan juga ditarik ke dalam ranah psikologi manusia. Drs. Muhammad Jarir memaparkan bahwa kesedihan adalah fitrah, tetapi tidak boleh meluluhkan kesabaran. Sebagaimana bulan yang gelap hanya sementara lalu kembali bercahaya, begitu pula di balik ujian hidup pasti ada cahaya. Ia mengingatkan sebuah kaidah spiritual: Besarnya pahala berbanding lurus dengan besarnya cobaan. Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan untuk meningkatkan derajat mereka. Gerhana bulan merupakan tanda bahwa kegelapan pasti akan berlalu jika kita tetap berada dalam ketaqwaan.

Menatap gerhana bulan adalah menatap pantulan iman. Ia datang untuk mengingatkan bahwa di atas kecanggihan teknologi manusia yang bisa memprediksi detik-detik gerhana, tetap ada kuasa Allah SWT untuk mengizinkannya terjadi. Mari jadikan setiap fenomena alam (gerhana bulan) sebagai perantara untuk semakin mendekat (taqarrub) kepada-Nya. (puji).