Iwan Setiawan, S.Ag., M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta dan dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta,
YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan UNISA – Al-Qur’an tidak hanya hadir sebagai kitab suci yang dibaca oleh umat Islam, tetapi juga sebagai pedoman yang menuntun manusia dalam membangun peradaban. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mendorong manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun kehidupan sosial yang adil, serta menumbuhkan kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan oleh Iwan Setiawan, S.Ag., M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga merupakan dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, saat menjadi penceramah dalam Kuliah Ramadhan di Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta lantai 2 pada jumat, 6 maret 2026.
Dalam ceramah bertema “Al-Qur’an sebagai Penuntun Peradaban” tersebut, Iwan mengajak jamaah untuk memahami Al-Qur’an tidak hanya sebagai bacaan ibadah, tetapi juga sebagai sumber nilai yang mampu membangun peradaban manusia.
Iwan Setiawan dikenal sebagai akademisi yang aktif dalam kajian keislaman serta kegiatan dakwah di lingkungan Muhammadiyah. Menurutnya, Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur kehidupan sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Perubahan Peradaban Melalui Al-Qur’an
Dalam pemaparannya, Iwan menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW menjadi titik penting dalam perubahan peradaban masyarakat Arab pada masa itu. Peristiwa turunnya wahyu pertama tersebut dikenal sebagai Nuzulul Qur’an, yaitu ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertama saat menyendiri di Gua Hira. Pada saat itu turun surah Al-‘Alaq ayat 1–5 yang memerintahkan manusia untuk membaca. Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab dikenal memiliki budaya kesukuan yang kuat serta tingkat literasi yang masih terbatas.
Namun setelah Al-Qur’an diturunkan, terjadi perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk membaca, menulis, serta menuntut ilmu pengetahuan.
“Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga mendorong manusia untuk berpikir dan mencari ilmu sebagai bagian dari penghambaan kepada Allah,” jelasnya iwan dalam ceramah nya.
Dorongan untuk menuntut ilmu tersebut kemudian melahirkan tradisi keilmuan yang berkembang pesat dalam sejarah peradaban Islam. Banyak ilmuwan Muslim yang lahir dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Sejarah Kenabian dan Peran Nabi Muhammad
Dalam penyampaiannya tersebut, Iwan juga menjelaskan tentang latar belakang Nabi Muhammad SAW yang berasal dari bangsa Arab dan suku Quraisy. Beliau merupakan keturunan Nabi Ibrahim melalui jalur Nabi Ismail yang menunjukkan kesinambungan risalah tauhid dari para nabi sebelumnya.
Menurutnya, kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Melalui ajaran Islam yang dibawa oleh Al-Qur’an, berbagai praktik sosial yang tidak adil pada masa itu mulai ditinggalkan dan digantikan dengan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, serta persaudaraan.
Islam juga memberikan panduan kehidupan yang seimbang, termasuk dalam kehidupan keluarga. Dalam ajaran Islam, pernikahan merupakan bagian dari sunnah yang dianjurkan sebagai jalan untuk membangun kehidupan yang harmonis dan penuh tanggung jawab.
Menghidupkan Nilai Al-Qur’an dalam Kehidupan
Di akhir ceramahnya, Iwan mengingatkan bahwa Al-Qur’an yang telah diturunkan lebih dari empat belas abad yang lalu tetap terjaga hingga saat ini. Hal tersebut menunjukkan kedudukan Al-Qur’an yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam.
Namun demikian, umat Islam tidak hanya dituntut untuk membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami serta mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Ia juga menekankan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, baik dengan membaca, mempelajari, maupun mengamalkan ajarannya.
Kuliah Ramadhan ini menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca, tetapi juga menjadi sumber nilai yang menuntun manusia dalam membangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak. (Badrun)

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: