Dr. Sulistyaningsih, S.KM., MH.Kes., Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta
Tubuh Sebagai Amanah, Bukan Milik Pribadi
Mengawali paparannya, Sulistyaningsih menegaskan sebuah pandangan dasar yang fundamental. Dalam perspektif agama Islam, tubuh manusia bukanlah hak milik pribadi yang bebas diperlakukan sekehendak hati. Namun, tubuh merupakan amanah atau titipan dari Allah SWT yang nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengacu pada firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 195, yang mengingatkan nasihat: “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” Ayat tersebut, menurut Sulistyaningsih, bukan hanya berbicara tentang larangan bunuh diri secara langsung, tetapi juga larangan merusak kesehatan secara perlahan melalui pola hidup yang buruk.
“Menjaga kesehatan bukan sekadar urusan medis atau tren gaya hidup, melainkan bentuk ibadah kepada Allah SWT,” ujar pakar kesehatan masyarakat dalam Kuliah Ramdhan di Masjid Walidah Dahlan Unisa pada tanggal 20 Ramadhan 1447 Hijriah.
Ia menegaskan bahwa kesalehan spiritual tidak akan sempurna jika tidak didukung dengan kesalehan tubuh. Tubuh yang bugar merupakan instrumen utama untuk sujud yang lama, berdiri yang tegak dalam salat, serta produktivitas dalam menyebarkan kebaikan sosial bagi sesama.
Korelasi Iman dan Kekuatan Fisik
Kader Pimpinan ‘Aisyiyah mengutip dari hadis Rasulullah SAW yang sangat populer di lingkup warga Persyarikatan, yaitu “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim). Konteks kuat yang dimaksud pada hadis tersebut adalah kekuatan yang sempurna dengan kuat secara mental, spiritual, dan tentu saja fisik. Ia menyoroti gaya hidup modern saat ini yang serba instan justru menjadi bumerang untuk kesehatannya di kemudian hari. Konsumsi makanan manis berlebih, kurangnya aktivitas fisik, dan pola makan yang tidak teratur nantinya akan melahirkan berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, dan obesitas.
“Islam sudah memberikan solusinya ribuan tahun lalu, jauh sebelum ilmu kedokteran modern berkembang pesat,” tutur Srikandi Kesehatan ‘Aisyiyah.
Solusi tersebut terdapat dalam QS. Al-A’raf: 31, yang menegaskan manusia untuk makan dan minum secukupnya dan tidak berlebihan. Bulan Ramadhan hadir sebagai momentum perbaikan sel. Secara sains, Sulistyaningsih menyampaikan bahwa saat berpuasa, tubuh melakukan proses pembersihan sel-sel yang rusak. Puasa melatih manusia untuk tidak dikuasi oleh perutnya. Ia menekankan amanah Rasulullah SAW bahwa tidak ada wadah yang lebih buruk untuk diisi manusia kecuali perutnya sendiri. Cukuplah beberapa suap makanan untuk sekadar menegakkan tulang rusuknya agar kuat beribadah.
“Seringkali kita baru menyadari nikmat kesehatan saat ia telah dicabut atau saat kita terbaring sakit. Padahal, setiap langkah kaki menuju masjid dan setiap tarikan napas saat tadarus maupun ibadah lainnya merupakan nikmat besar yang harus dijaga dengan syukur aktif, yaitu dengan merawat tubuh ini,” tutupnya dalam Kuliah Ramadhan.
Kesalehan tidak berarti lalai terhadap raga, melainkan dengan mencintai raga, maka kita sedang menuju kesalehan yang sebenarnya. Bulan Ramadhan seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk berhenti “mendzalimi” diri sendiri melalui makanan yang tidak sehat. Menjaga kesehatan tubuh merupakan bentuk syukur yang paling nyata. (puji).

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: