Prof. Dr. Ir. Sukamta, M.T., IPU., ASEAN Eng, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Klaten
Alam Semesta sebagai Pengingat Sang Pencipta
Dalam ceramahnya, Sukamta mengajak jamaah untuk merenungkan alam semesta sebagai tanda kebesaran Allah SWT. Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Furqan ayat 61 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan bintang-bintang di langit, menjadikan matahari sebagai pelita, serta bulan sebagai cahaya.
Menurutnya, ayat tersebut mengajak manusia untuk menyadari bahwa keteraturan alam semesta menunjukkan adanya Sang Pencipta yang mengatur segala sesuatu. Dalam Islam, kesadaran tersebut merupakan bagian dari tauhid rububiyah, yaitu keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya yang menciptakan dan mengatur seluruh alam.
Ia juga menyinggung kisah dalam Al-Qur’an yang menggambarkan keterbatasan manusia ketika diminta menciptakan sesuatu seperti matahari. Kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk menandingi kekuasaan Allah SWT.
Mengingat Asal Usul Manusia
Selain mengajak jamaah untuk merenungkan alam semesta, Sukamta juga mengingatkan tentang asal-usul manusia sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12 bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah. Menurutnya, ayat tersebut mengandung pesan penting agar manusia tidak bersikap sombong.
“Manusia berasal dari tanah, sehingga tidak pantas jika bersikap sombong dengan kekayaan, ilmu, ataupun jabatan,” jelasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan falsafah Jawa “ojo dumeh”, yang berarti jangan merasa lebih atau mentang-mentang memiliki sesuatu. Falsafah ini mengingatkan manusia untuk selalu bersikap rendah hati karena pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Sukamta juga mengutip ungkapan pujangga Jawa Raden Rangga Warsita yang mengatakan “urip iku mung kaya mampir ngombe,” yang berarti kehidupan di dunia hanyalah singgah sementara. Oleh karena itu, kehidupan hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan sebelum manusia kembali kepada Sang Pencipta.
Mengendalikan Nafsu dan Memaknai Ramadhan
Sukamta juga menjelaskan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia menyinggung simbol-simbol nilai spiritual dalam budaya Jawa, salah satunya pada baju surjan yang memiliki enam kancing di bagian leher sebagai simbol rukun iman.
Selain itu terdapat dua kancing di bagian dada yang melambangkan syahadat serta tiga kancing yang tertutup kain sebagai pesan agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu. Menurutnya, manusia yang mengikuti hawa nafsunya akan mudah terjerumus dalam kehinaan karena kehidupan dunia bersifat sementara.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan keutamaan ibadah di bulan Ramadhan. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT.
Sukamta juga mengajak jamaah untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan guna meraih keutamaan Lailatul Qadar, malam penuh keberkahan ketika para malaikat turun ke bumi membawa ketenangan bagi manusia.
Orang yang berpeluang mendapatkan Lailatul Qadar adalah mereka yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, bersabar, serta mampu menerima rezeki Allah dengan penuh rasa syukur, ujarnya.
Ramadhan menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ibadah, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara sebelum akhirnya manusia kembali kepada Allah SWT. (Badrun).

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: