YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan UNISA – Di tengah derasnya arus modernitas yang sering kali melahirkan berbagai bentuk kepercayaan yang bercampur antara tradisi, mitos, dan keyakinan agama, pemurnian akidah menjadi sebuah kebutuhan mendasar bagi umat Islam. Hal tersebut disampaikan oleh Talqis Nurdianto, Lc., M.A., Ph.D., dosen Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam kajian iktikaf yang berlangsung pada Senin, 9 Maret 2026 bertepatan dengan malam ke-21 Ramadhan 1447 H di Masjid Walidah Dahlan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Dalam kajian bertema Tazkiyah Akidah: Memurnikan Tauhid dari Syirik, Tahayul, dan Khurafat, ia mengajak jamaah untuk kembali memahami tauhid sebagai fondasi utama kehidupan seorang Muslim.

Talqis membuka kajiannya dengan menjelaskan bahwa tauhid pada hakikatnya adalah ma’rifatullah, yakni upaya mengenal Allah SWT melalui ciptaan-Nya. Menurutnya, alam semesta beserta seluruh isinya tidak hadir secara kebetulan, melainkan diciptakan oleh Allah dengan tujuan dan hikmah tertentu.

“Segala sesuatu yang ada di alam ini pasti memiliki makna. Dengan mempelajari alam semesta, manusia dapat semakin mengenal kebesaran Allah SWT,” ujarnya di hadapan jamaah yang mengikuti rangkaian ibadah iktikaf.

Ma’rifatullah Melalui Alam Semesta

Dalam penjelasannya, Talqis menegaskan bahwa memahami alam semesta merupakan salah satu jalan untuk memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Alam yang luas dengan segala keteraturannya menjadi bukti bahwa seluruh ciptaan berada dalam kekuasaan Allah.

Ia mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia pada akhirnya akan binasa. Manusia pun akan meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Allah SWT. Karena itu, menurutnya, hal terpenting yang harus dijaga oleh setiap manusia adalah keimanan.

Talqis juga mengutip pesan Rasulullah SAW menjelang wafat yang menekankan pentingnya menjaga salat. Salat menjadi amalan pertama yang akan dihisab oleh Allah pada hari kiamat. Jika salat seseorang baik, maka amalan lainnya akan ikut menjadi baik.

Bahaya Syirik dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kajian tersebut, Talqis Nurdianto menyoroti berbagai bentuk penyimpangan akidah yang masih sering terjadi di tengah masyarakat. Ia menjelaskan bahwa syirik tidak hanya terjadi ketika seseorang menyembah selain Allah, tetapi juga ketika seseorang meyakini adanya kekuatan lain yang dianggap mampu memberikan perlindungan atau pertolongan selain dari Allah.

Ia mencontohkan praktik penggunaan rajah atau benda-benda tertentu yang diyakini dapat memberikan keselamatan. Menurutnya, yang menjadi permasalahan bukanlah tulisan ayat Al-Qur’an yang terdapat pada benda tersebut, melainkan keyakinan bahwa benda tersebut memiliki kekuatan khusus selain dari Allah.

“Jika seseorang meyakini bahwa benda tersebut yang melindungi dirinya, maka keyakinan itu bisa mengarah pada perbuatan syirik,” jelasnya.

Talqis juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah percaya pada berbagai bentuk tahayul yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam, seperti mengaitkan suatu kejadian dengan pertanda kesialan atau mempercayai praktik-praktik mistis tertentu.

Menjaga Kemurnian Tauhid sebagai Fondasi Kehidupan

Menutup kajiannya, Talqis Nurdianto menegaskan bahwa menjaga kemurnian tauhid merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Keimanan kepada Allah bukanlah sebuah pilihan, melainkan perintah yang harus diyakini dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Usai menyampaikan kajian, Talqis juga menyampaikan harapannya agar jamaah yang mengikuti iktikaf dapat menjadi pribadi yang lebih baik setelah menjalani rangkaian ibadah pada malam-malam terakhir Ramadhan. Menurutnya, iktikaf tidak hanya menjadi sarana meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbaiki diri serta memperkuat keimanan kepada Allah SWT.

Ia juga menilai bahwa kegiatan iktikaf di Masjid Walidah Dahlan mampu menghadirkan suasana kebersamaan antara panitia dan peserta. Interaksi yang terjalin selama kegiatan berlangsung dinilai dapat membentuk kedekatan layaknya sebuah keluarga kecil di lingkungan masjid.

Talqis berharap kegiatan iktikaf ini dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang dan tetap terbuka bagi masyarakat umum sehingga semakin banyak umat Islam yang dapat merasakan manfaatnya sebagai ladang kebaikan bersama.

Melalui kajian iktikaf ini, jamaah diharapkan dapat semakin memahami pentingnya menjaga akidah serta menjauhkan diri dari berbagai bentuk syirik, tahayul, dan khurafat. Dengan akidah yang kuat, seorang Muslim diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT serta menjadikan ibadah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. (Badrun)