YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa-

Dinamika kependudukan global saat ini menunjukkan sedang berada di ambang pergeseran besar yang akan mengubah wajah sejarah manusia dalam 50 tahun ke depan. Pada saat negara-negara maju mulai menghadapi fenomena “desa mati” dan penurunan jumlah penduduk secara drastis, umat Islam justru diprediksi akan menjadi populasi mayoritas di muka bumi. Kondisi tersebut tidak sekadar pertumbuhan angka, melainkan refleksi dari ketahanan nilai spiritual di tengah gempuran gaya hidup materialisme global. Hal tersebut diungkap pada kegiatan kajian Iktikaf Camp Ramadan yang dilaksanakan sebelum berbuka puasa di Masjid Walidah Dahlan Unisa pada Selasa, 10 Maret 2026, bersama Dr. Askuri, S.S., M.Si. yang menjelaskan sebuah fenomena sosiologis terkait masa depan populasi dunia. Berdasarkan prediksi data statistik dari lembaga riset yang berasal dari Amerika Serikat, Pew Research Center, peta demografi agama dunia akan mengalami pergeseran dramatis dalam 50 tahun ke depan.

Transformasi Demografi

Pada saat ini, pemeluk agama Kristen masih menempati urutan pertama secara global dengan presentase sekitar 32% yang disusul oleh umat Muslim di posisi kedua dengan persentase sekitar 24%. Tetapi, data tersebut memperlihatkan tren yang berbalik. Dalam setengah abad mendatang, populasi umat Islam diprediksi melonjak secara signifikan hingga 33%, sedangkan jumlah penganut agama Kristen diperkirakan menurun drastis menjadi 21%.

Krisis Demografi di Negara Maju

Pakar Sosiologi Agama menegaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan pola gaya hidup di negara-negara maju seperti Eropa, Amerika, dan Jepang. Di daerah-daerah tersebut, struktur kependudukan mulai terjadi ketimpangan, jumlah penduduk lansia jauh lebih banyak dibandingkan dengan generasi muda.

Faktor penyebabnya antara lain:

  1. Konstruksi Kemapanan: Generasi muda di negara maju menganggap pernikahan adalah beban finansial yang berat. Mereka menilai pernikahan harus mapan terlebih dahulu dengan sempurna sebelum berani berkomitmen.
  2. Reduksi Makna Pernikahan: Nilai sakral pernikahan mulai memudar dan nilainya disederhanakan menjadi sekadar hubungan transaksional atau seksual semata.
  3. Dinamika Childfree: Di negara maju seperti Jepang, banyak desa yang mulai tidak berpenghuni karena angka kelahiran mendekati titik nol. Bahkan, terdapat fenomena di mana hewan peliharaan lebih diprioritaskan daripada mempunyai anak.

Pernikahan sebagai Pilar Peradaban

Aktivis di Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah IstimewaYogyakarta menjelaskan bahwa hal tersebut berbeda dengan tren di Barat, umat Islam masih menjunjung tinggi nilai kesakralan pernikahan. Dalam perspektif Islam, menikah bukan sekadar kontrak sosial, melainkan ibadah dan sunnah Nabi Muhammad SAW, “Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”

“Nilai religius inilah yang menjadi penyelamat demografi umat Islam. Dengan menjaga institusi keluarga, umat Islam secara alami menjaga keberlangsungan generasi,” ujar Ketua Pelaksana Panitia Ramadhan Masjid Walidah Dahlan Unisa.

Memahami Lima Generasi di Era Digital

Askuri menjelaskan bahwa saat ini kita hidup berdampingan dengan lima generasi yang memiliki karakteristik berbeda, karateristiknya sebagai berikut:

  1. Baby Boomers (1945-1960): Generasi ini lahir pasca-perang dengan semangat pertumbuhan populasi yang tinggi yang memiliki etos kerja yang kuat dan cenderung konservatif.
  2. Generasi X (1960-1980): Generasi yang tumbuh di masa transisi ekonomi global dengan karakteristik yang adaptif, mandiri, dan mulai menyesuaikan kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi.
  3. Generasi Y / Milenial (1981-1995): Generasi yang sering disebut sebagai Digital Immigrants karena merasakan hidup sebelum dan sesudah ledakan dunia digital.
  4. Generasi Z (1996-2010): Generasi Digital Natives yang sejak kecil sudah mengenal teknologi dan media sosial.
  5. Generasi Alpha (2011-2025): Generasi termuda yang lahir di era kecerdasan buatan dan sering disebut sebagai generasi sandwich generation, hidup di tengah struktur keluarga yang kompleks antara kakek-nenek, orang tua, dan cucu.

Memahami perbedaan generasi saat ini sangat penting agar nilai-nilai kesakralan pernikahan tetap dapat diwariskan dengan cara yang relevan kepada generasi muda di tengah gempuran gaya hidup global yang cenderung egosentris. (Puji).