Dr.Moh. Ali Imran,S.Sos.,M.Fis, Wakil Rektor IV bidang kerjasama dan hubungan internasional Unisa.

“PUASA DAN KESEIMBANGAN TUBUH: APA KATA NEUROSAINS DAN REHABILITASI?”

YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- Kenapa ramadhan, begitu antusias dan mendunia. Menurut logika orang Eropa tidak masuk akal. Namun, sebagai umat muslim kita selalu diberikan pengingat bahwa bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.

Ketika kita diperintahkan untuk Iqra membaca Al-Qur’an maka apa yang terjadi di tubuh kita? Rabu, 11 Maret 2026 Masehi, Masjid Walidah Dahlan lantai 2. Pada Kuliah Ramadhan hari Ke 23 Penceramah, Dr.Moh. Ali Imran,S.Sos.,M.Fis mengajak kita untuk berpikir sejenak mengapa kita perlu membaca ayat Allah dan bagaimana cara berinteraksinya.

Sering kali kita merasa saat membaca atau berinteraksi dengan Al-Qur’an terkesan satu arah. Kita akan menangkap, bahkan menerjemahkan sesuai ilmu pengetahuan yang kita miliki,  seolah ayat Al-Quran itu mati.

Menurut Ali Imron yang merupakan pakar keilmuan bidang Fisioterapi. Al-Qur’an memiliki 2 fungsi.  Pertama, Fungsi formatif, yaitu untuk mengambil fadilah atau manfaat ketika kita membaca Al-Qur’an.  Kedua, Quran berfungsi sebagai informatif ketika berinteraksi.

“Karakter pertama, kesadaran magis yang mengahafal dan membaca akan mendapatkan pahala. Karakter kedua,  ketika membaca Al-Qur’an akan menimbulkan kesadaran kritis, kesadaran yang muncul ketika menafsirkan Al-Qur’an tentang apa yg kita lakukan untuk memuliakan manusia bumi dan seisinya,” jelas Wakil Rektor IV bidang kerjasama dan hubungan internasional Unisa.

Mengutip dari Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah ayat 183 puasa Ramadan merupakan proses untuk lebih bertakwa kepada Allah SWT. Dalam surah Ali-Imran 134 menegaskan tentang pengukuran ketakwaan seorang hamba dalam pengelolaan bumi dan manusia, jika pengelolaan tersebut tidak berhasil maka terjadi kegagalan ketika mengimplementasikan surah Al-Baqarah 183. Kesadaran kritis kita saat Ramadan, seperti menahan amarah, memaafkan, dan infak jauh lebih besar dibandingkan dengan bulan lainnya.

Ramadan selesai kita kembali bersih dengan syawalan. Jadi yang disebut saat syawalan ketika mengacu pada Q.S Ali-Imran 134 itu untuk meningkatkan hubungan sesama manusia dengan saling bersilaturahmi dan saling memaafkan.

Dalam perspektif agama Islam memiliki kesadaran kritis  bukan hanya sekadar tentang persoalan akhirat tapi juga bagaimana memanusiakan manusia di bumi. Setelah momentum bulan Ramadan selesai kesadaran Ramadan yang diburu kita, yaitu menjadi manusia yang pemaaf tidak menjadi lagi pemarah.

 

Bagaimana otak kita mencerna ketika berinteraksi dengan Al-Qur,an?

Agama itu bersifat kognitif, dalam satu sisi agama harus dapat dipahami. Dalam konteks kognitif tentang simpati dan empati, agama diperuntukkan untuk mereka yang memiliki akal. Agama harus terstruktur secara kognitif yang memiliki landasan berpikir kritis yang masuk akal, sistematis, dan dapat dipahami dengan akal budi. Maka dari itu setiap agama harus terdapat perilaku seperti ibadah, etika, dan intelektualitas untuk membangun keyakinan yang memperkuat aspek kognitif. Setelah aspek kognitif dan perilaku terpenuhi, hal tersebut dapat  membuka ruang spiritualitas yang lebih bermakna tentang kesadaran diri terhadap kehadiran-Nya. Keterbatasan deskripsi dan minimnya peran sains ini merupakan bagian mendalam karena allah SWT tidak dapat dideskripsikan. Oleh karena itu, sesungguhnya yang dapat kita lakukan adalah mengembangkan sains dan aspek spiritualitas.(puji)

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: