YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa-

Sejarah peradaban manusia merupakan perjalanan pergeseran alat dan nilai. Pada zaman food gathering (berburu) yang menuju era agriculture atau era pertanian, hingga lonjakan Revolusi Industri 1.0 di abad ke-18, teknologi selalu menjadi penggerak perubahan sosial yang intensif. Dalam kajian Ramadan Iktikaf Camp menjelang berbuka puasa, pada, Sabtu 14 Maret 2026 Masehi di Masjid Walidah Dahlan Unisa, Dr. Askuri, M.Si. sebagai penceramah memaparkan bahwa kecepatan internet yang sering kita nikmati ini menyisipkan potensi bahaya terhadap otoritas iman dan sosial kita.

Perjalanan Peradaban Manusia dan Perubahan Sosial

Askuri melihat bahwa setiap loncatan peradapan manusia yang mulai dari zaman tenaga uap (1.0), listrik (2.0), komputer (3.0), hingga internet (4.0), yang secara konsisten memicu disrupsi sosial. Ia menegaskan bahwa penemuan teknologi akan selalu menimbulkan perubahan perilaku manusia secara signifikan.

“Dulu orang menenun kain secara manual, sehari hanya mampu menghasilkan dua helai. Begitu mesin ditemukan di abad ke-18, sehari dapat menghasilkan 1.000 helai kain. Inilah pemicu pertumbuhan Industri,” ujar Ketua Panitia Ramadan Masjid Walidah Dahlan.

Namun, di era 4.0, kendalanya bukan lagi tentang seberapa banyak produksinya, melainkan kecepatan. Internet memungkinkan kita melihat peristiwa di berbagai penjuru dunia lain secara real-time. Kecepatan tanpa batas inilah yang mulai memicu risiko hilangnya iman jika tidak dibarengi dengan kesiapan mental.

Kegelisahan Terhadap Generasi Terburuk

Askuri mengacu pada sebuah penelitian yang menyebutkan, “Ada penelitian yang menyebut generasi orang tua saat ini sebagai generasi terburuk dalam sejarah peradaban. Mengapa demikian? Karena mereka tidak pernah mempersiapkan kesiapan anak-anaknya terhadap perubahan teknologi yang sangat cepat ini.”

Keresahannya terbukti di lapangan dengan Ia menceritakan fenomena mahasiswa yang mulai mempertanyakan fondasi iman hanya karena jawaban dari kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence.

“Ada mahasiswa tidak percaya adab kubur karena menyimpulkan pengetahuan dari AI. Cara pandang keagamaan kita lama-kelamaan memang akan dipengaruhi teknologi digital,” tambah pakar Sosiologi, 25 Ramadan 1447 Hijriah.

Pengaruhnya mulai menjangkau ke ranah akidah. Ia menceritakan fenomena di mana otoritas agama mulai terkikis oleh simpulan-simpulan jawaban teknologi kecerdasan buatan.

Tabayyun Di Tengah Bisingnya Media Sosial

Akademisi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menjelaskan bahwa ketika kita menghadapi arus informasi yang cepat dan melimpah yang di mana 83% masyarakat Indonesia telah terjebak dalam berbagai grup media sosial, Askuri memberikan solusi yang berlandaskan Al-Qur’an, yaitu Tabayyun.

“Al-Qur’an memberikan petunjuk bagaimana mengelola informasi yang tidak kita kenal dengan menerapkan prinsip tabayyun. Wahai orang-orang yang beriman, ketika datang kepada kalian seorang fasik yang membawa berita, maka lakukanlah verifikasi terlebih dahulu,” jelasnya yang merujuk pada Surah Al-Hujurat.

Menurut Askuri kegagalan dalam melakukan verifikasi informasi atau berita adalah kesalahan fatal masyarakat modern. Sering kali kita tidak melakukan verifikasi saat menerima informasi dan langsung menyebarkannya. Itulah yang keliru dan menyalahi salah satu prinsip dasar dalam Al-Qur’an, yakni tabayyun. (Puji).