M. Adam Jerusalem, S.T., S.H., M.T., Ph.D., Ketua Program Studi Teknik Industri Universitas Negeri Yogyakarta.
YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- Di tengah dinamika modernisasi yang serba instan, cepat, dan digital, umat Islam sering kali terbelenggu dalam perannya yang sebagai pengguna teknologi semata. Padahal, sejarah telah merekam pencapaian gemilang bahwa landasan sains dunia justru ditetapkan oleh para cendekiawan muslim yang berawal dari meja tilawah Al-Qur’an. Dalam sudut pandang Islam, peradaban bukan sekadar diukur dari siapa yang paling cepat menemukan mesin dan senjata baru, melainkan siapa yang paling kompeten dalam menyeimbangkan kecerdasan akal dengan kemuliaan moralitas. Pesan kuat inilah yang yang dipaparkan oleh M. Adam Jerusalem, S.T., S.H., M.T., Ph.D. dalam Kuliah Ramadan di Masjid Walidah Dahlan Unisa Lantai 2 pada, Minggu, 15 Maret 2026 Masehi.
Al-Qur’an Sebagai Kompas Pada Seluruh Aspek Kehidupan
Dalam mengawali pemaparannya, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya sekadar kitab suci untuk perkara di akhirat kelak. Mengutip dari QS. Al-Baqarah ayat 185, ia menekankan posisi kitab suci Al-Qur,an sebagai hudan yang merupakan pedoman atau petunjuk bagi manusia yang bersifat universal dan komprehensif.
“Jika kita berkeinginan untuk berjalan lurus dalam kehidupan pribadi yang saleh maupun sosial, maka pedomannya hanya satu, yaitu Al-Qur’an,” tegas Wakil Sekretaris III Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2022-2027.
Baginya, Al-Qur’an adalah kompas dari segala aspek kehidupan. Adam mengungkap fakta sejarah bahwa ketika bangsa Persia bersinggungan dengan nilai-nilai Islam, maka yang terjadi adalah akselerasi peradaban yang belum pernah nampak sebelumnya. Al-Qur’an merupakan penggerak utama intelektualitas yang mentransformasi masyarakat dari masa kegelapan mengarah pada cahaya ilmu pengetahuan.
Inspirasi Sains dari Ayat-Ayat Al-Qur’an
Salah satu poin paling krusial dalam paparannya adalah bagaimana Al-Qur’an dapat mengilhami lahirnya ilmu pengetahuan modern. Penggerak penguatan mutu dan akreditasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) menggambarkan ilustrasi sejarah bangsa Persia yang mengalami kemajuan sangat cepat dan signifikan sesudah bersentuhan dengan nilai-nilai Islam. Tokoh-tokoh cendekiawan seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi bukanlah seorang ilmuwan yang memisahkan antara agama dan sains. Penemu rumus Aljabar dan Algoritma adalah Al-Khawarizmi yang menemukan teori ini bukan dari ruang hampa.
Adam termotivasi dari landasan konseptual yang terdapat dalam QS. Al-Qamar: 49 yang menyebutkan bahwa segala sesuatu telah diciptakan sesuai ukurannya (qodar).
“Dunia ini berjalan dengan ukuran dan hukum matematis. Tanpa dasar matematika yang kuat, kita tidak akan pernah bisa menikmati teknologi dan sistem komunikasi digital yang ada hari ini,” tegas Adam pada Kuliah Ramadan, 26 Ramadan 1447 Hijriah.
Demikian juga dengan Ibnu Sina (Avicenna) yang mempelopori ilmu kedokteran modern. Inspirasinya bermulai dari QS. Adz-Dzariyat: 21 yang mendorong manusia untuk mulai memperhatikan diri mereka sendiri. Ayat ini merupakan “panggilan riset” Ibnu Sina untuk menelaah anatomi manusia dan menciptakan karya monumental The Canon of Medicine. Al-Qur’an memotivasi manusia untuk membuat tubuhnya sebagai ruang riset untuk mengenal Allah SWT.
Menyeimbangkan Kemajuan Teknologi Dengan Moralitas
Bagian paling kritis dari kuliah ramadan ini adalah nasihat Adam terkait bahayanya teknologi ketika terpisah dari nilai-nilai ketuhanan. Ia menyampaikan pesan tajam bahwa kemajuan teknologi tanpa diimbangi budi pekerti hanya akan menciptakan penindasan baru.
“Untuk Islam, kemajuan teknologi adalah sebuah keharusan. Tapi, sejarah telah mencatat dengan tinta kelam bahwa ketika teknologi dipegang oleh mereka yang tidak berakhlak, hasilnya adalah agresi, penjajahan, dan dehumanisasi,” tegas pakar bidang teknologi.
Ia mencontohkan kemajuan teknologi militer dan sains di Iran sebagai ilustrasi bagaimana semangat Qur’ani mampu mendorong kemandirian sebuah bangsa tanpa kehilangan identitas spiritualitasnya. Perkembangan sains dan teknologi harus berjalan berdampingan dengan komitmen untuk tidak menindas bangsa lainnya.
Mewujudkan Peradaban Rahmatan Lil ‘Alamin
Adam mengajak para jamaah untuk berhenti menempatkan agama dan sains dalam ruang yang terpisah. Ramadan ialah momentum untuk menjalankan harmonisasi antara iman, ilmu, dan amal. Dua kunci utama yang harus senantiasa dipegang teguh oleh generasi muda di masa depan adalah Ilmu Pengetahuan yang Maju dan Akhlakul Karimah. Dengan mengintegrasikan kedua kunci diatas, Al-Qur’an akan mutlak menjadi kompas peradaban yang membawa rahmat bagi segenap alam semesta. (Puji).

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: