Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I, M.S.I, Ketua Takmir Masjid Walidah Dahlan Unisa
YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- Dalam perjalanan spiritual seorang mukmin, puncak dari segala ikhtiar ibadah bukan terletak pada pengakuan manusia, melainkan pada penerimaan ibadahnya di sisi Allah SWT. Namun, sebagai makhluk yang terbatas, kita sering kali terbelenggu dalam kebiasaan ibadah tanpa sempat merenungi apakah ibadah tersebut telah di terima Allah. Dalam Kuliah Ramadan di Masjid walidah Dahlan Lantai 2, pada 12 Maret 2026 Mahesi, Dr. M. Nurdin Zuhdi, S.Th.I, M.S.I. menyampaikan bahwa para ulama terdahulu memiliki tradisi spiritual yang luar biasa sebelum datangnya bulan Ramadan. Enam bulan sebelum datangnya Ramadan, mereka telah berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadan, setalah dipertemukan bula Ramadan kemudian enam bulan berikutnya berdoa supaya ibadahnya diterima. Fenomena ini menunjukkan bahwa diterimanya amal saleh merupakan perkara besar yang menentukan nasib seorang hamba di akhirat kelak.
- Rasa Takut yang Menghidupkan Hati
Tanda pertama bahwa amal seseorang hamba diterima justru muncul ketika merasa waspada dan takut (khauf) jika amalnya tertolak. Dalam QS. Al-Mu’minun ayat 60, Allah berfirman:
“Dan mereka yang melakukan kebaikan dengan hati yang penuh rasa takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.”
Ketua Takmir Masjid Walidah Dahlan Unisa menjelaskan ayat ini dengan mengutip percakapan antara Siti Aisyah ra. dan Rasulullah SAW. Aisyah bertanya apakah mereka yang takut itu adalah orang yang bermaksiat, mencuri, atau berzina. Rasulullah menjawab:
“Tidak, wahai putri Abu Bakar. Mereka justru adalah orang-orang yang rajin mengerjakan ibadah amal saleh, namun mereka takut amalannya tidak diterima.”
Ketakutan inilah menjadi tanda diterimanya amal, karena rasa takut ini melindungi seorang hamba dari sifat ghurur (tertipu oleh amal sendiri) dan membuatnya senantiasa menunduk dan belandaskan pada karunia Allah, tidak pada kemampuan ibadahnya.
- Konsistensi dalam Kebaikan Berikutnya
Tanda kedua yang dapat dirasakan adalah kemudahan untuk melakukan ketaatan berikutnya. Dalam kaidah ilmu tazkiyatun nafs, diuraikan bahwa imbalan dari kebaikan yang diterima Allah SWT adalah hadirnya taufik untuk berbuat baik lagi. Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Unisa menegaskan bahwa jika setelah mengerjakan suatu kebaikan, mereka akan menemukan dirinya lebih ringan dalam melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, maka itu merupakan tanda kuat adanya ridha Allah.
“Orang-orang yang mencari petunjuk Allah, maka Allah akan menambah petunjuk bagi mereka,” tutur Nurdin yang mengutip dari QS. Muhammad ayat 17, 23 Ramadan 1447 Hijriah.
Kebaikan yang diterima tidak akan pernah terputus pada satu titik, melainkan akan menjadi rangkai ketaatan yang tak berhenti.
- Matinya Benih Kesombongan (Ujub)
Tanda yang paling esensial adalah hilangnya keinginan untuk membanggakan diri terkait amal yang telah dilakukannya di hadapan makhluk lain. Sifat ujub atau bangga diri itu merupakan racun yang mampu menghapus pahala kita dalam sekejap. Ia mengisahkannya dari perjalanan spiritual Abu Yazid Al-Bustomi. Suatu ketika, Abu yazid diikuti oleh seekor anjing dan refleks mengangkat gamisnya karena takut terkena najis. Namun, anjing tersebut atas izin Allah dapat berbicara: “Wahai Abu Yazid, jika gamismu terkena najis tubuhku, engkau cukup mencucinya tujuh kali. Namun, jika engkau mengangkat gamismu karena merasa lebih mulia derajatmu dariku, maka najis di hatimu tidak akan suci meski dibasuh dengan tujuh samudera.”
Pesan yang sangat tajam tersebut menujukkan jangan pernah merasa lebih baik dari siapa pun hanya karena kita merasa telah memiliki banyak amal saleh. Sombong ialah sifat Iblis yang membuatnya dikeluarkan dari surga meski ia mempunyai tingkat ketaatan yang tinggi sebelumnya. Amal yang diterima justru akan membuat pribadi menjadi semakin rendah hati dan penuh kasih sayang kepada sesama makhluk.
Nurdin mengajak jamaah untuk tidak hanya mengejar ibadah, tetapi juga meningkatkan kualitas hati. Sebagai penutup, ia mengutip pesan Imam Ibnu Qayyim:
“Sungguh, jika engkau menghabiskan malam dengan tidur lalu bangun dengan rasa menyesal, itu jauh lebih baik daripada engkau menghabiskan malam dengan shalat namun bangun dengan rasa bangga diri.”
Mari kita senantiasa untuk menjaga setiap amal yang kita lakukan dengan memiliki rasa takut, konsisten untuk melakukan kebaikan, dan jangan bangga diri. keikhlasan dalam berdoa dan menjaga hati merupakan kunci supaya tanda-tanda amal saleh diterima. (Puji).

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: