YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa-

Indonesia saat ini sedang menghadapi transformasi peradaban yang hening namun ekstensif. Daerah seperti Bantul dulu identik dengan bentangan persawahan yang menenangkan, saat ini wilayah tersebut mulai didominasi beton dan aspal. Data menunjukkan 56% penduduk Indonesia telah bertransformasi menjadi warga kota, dan dalam 50 tahun ke depan, angka ini diprediksi melonjak hingga 70%.  Namun, perubahan ini bukan sekadar soal transisi bentang alam akibat urbanisasi. Tapi, tantangan terbesarnya terletak pada involusi keluarga yang di mana terdapat gesekan yang memicu konflik akibat interaksi antar-generasi dalam satu era. Hal tersebut diungkap Dr. Askuri, M.Si. dalam Kajian Ramadan Iktikaf Camp di Masjid Walidah Dahlan Unisa, Kamis, 12 Maret 2026 Masehi.

Involusi Keluarga: Rumah “Tabon” yang Menjadi Sesak

Dulu, masyarakat Jawa mengenal rumah tabon yang luas yang dijadikan sebagai pusat temu keluarga besar. Kini, urbanisasi menekan keluarga untuk bermukim di lahan yang semakin sempit. Di dalam ruang yang terbatas itu, terdapat 5 generasi yang hidup dengan ego dan sudut pandang yang saling berlawanan.

“Situasi perkotaan akan jauh lebih kompleks. Interaksi yang intens dalam ruang terbatas dengan latar belakang zaman yang berbeda memicu terjadinya konflik,” ungkap Ketua Panitia Ramadan Masjid Walidah Dahlan.

Gesekan Digitalisasi

Askuri mengungkap salah satu pemicu konflik utama saat ini adalah Digitalisasi. Ia menyoroti bagaimana aktivitas sehari-hari kini bergeser ke genggaman tangan. Mengerjakan tugas, bekerja, hingga menonton kajian kini bisa dilakukan melalui HP. Perubahan ini sering kali gagal dipahami oleh generasi tertua.

“Generasi Baby Boomer yang merupakan generasi tertua saat ini memiliki karakter khas; mereka merasa dirinya paling hebat, paling benar, dan menganggap cara lain salah. Ketika mereka memperhatikan anak cucu memanfaatkan HP untuk bekerja maupun menonton kajian, ketidaksadaran akan perubahan zaman ini akan menimbulkan konflik mendalam,” jelas pakar Sosiologi, 23 Ramadan 1447 Hijriah.

Akademisi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menyampaikan bagaimana 5 generasi ini memebntuk karakter yang berbeda-beda:

  1. Baby Boomer (1945-1960): Generasi ini merasa bahwa dirinya paling hebat dan paling benar sedangkan yang lain salah. Karena mereka tumbuh dalam sistem yang kaku dan kerja fisik yang keras dan cenderung merasa perspektif lain sebagai kesalahan. Inilah yang menjadi pemicu konflik, ketika mereka melihat anak cucunya terus-menerus melihat layar HP.
  2. Generasi X (1960-1980): Lahir saat transisi ekonomi belum membaik, tetapi pendidikan sudah mulai masuk ke daerah pelosok. Mereka merupakan jembatan generasi yang tangguh dan dipaksa beradaptasi dengan komputer, serta mulai membuka gerbang modernisasi pendidikan di keluarga.
  3. Generasi Y/Millennial (1981-1995): Mulainya generasi era internet. Transformasi perilaku sangat terlihat, internet mulai dipakai untuk segala hal, termasuk mencari inspirasi nama anak yang tidak lagi terpaku pada tradisi lama, tapi terinspirasi dari tren global di ruang digital. Mereka menghargai work life balance yang mulai mempersoalkan otoritas kaku dari generasi baby boomer.
  4. Generasi Z (1996-2010): Generasi Z disebut sebagai generasi Digital Natives Kelompok yang tidak menjelajahi kehidupan tanpa internet. Bagi mereka, HP merupakan ruang privasi sekaligus ruang kerja dan sosial. Karakter mereka yang progresif terhadap dunia digital sering dianggap kurang sopan dan antisosial oleh generasi tertua saat ini.
  5. Generasi Alpha (2011-2025): Generasi masa kini yang lahir sepenuhnya di era digital yang di mana lebih dulu mengenal HP sebelum mengenal buku. Mereka belajar dan berinteraksi dengan dunia via algoritma, yang sering kali dianggap “aneh” oleh generasi baby boomer.

Kompleksitas Masa Depan dan Pemahaman Empati

Digitalisasi yang melonjak bukan tentang teknologi, tetapi soal cara pandang dunia (worldview). Ketika seorang generasi boomer melihat generasi saat ini terus menerus menatap layar HP, ia mungkin menganggap “kemalasan”, padahal generasi saat ini sedang menciptakan ekonomi baru atau mungkin menyelesaikan tugas akademisnya dan bekerja.

Orientasi ke depan perkotaan Indonesia bukan hanya tentang membangun transportasi publik atau gedung tinggi, melainkan bagaimana mengelola konflik dalam 5 generasi saat ini. Tanpa adanya pemahaman antar-generasi, rumah bukan lagi menjadi tempat pulang yang nyaman, sebaliknya menjadi ruang konflik ego karena perbedaan zaman. (Puji).