Prof. Dr. Hj. Casmini, S.Ag., M.Si., Guru Besar Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- Ibadah puasa di bulan suci Ramadan sering kali diartikan secara sempit hanya sekadar aktivitas menahan lapar dan nafsu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Tetapi, esensi terdalam dari bulan Ramadan adalah proses perubahan diri untuk meningkatkan kualitas hubungan, baik kualitas hubungan vertikal kepada Sang Pencipta (habluminallah) maupun kualitas hubungan horizontal dengan sesama manusia (habluminannas). Bulan Ramadan merupakan kesempatan untuk melakukan “detoksifikasi” hati dan lisan. Dalam lingkup terkecil, habluminannas yang paling krusial untuk diperbaiki adalah hubungan di dalam keluarga.
Dalam Kuliah Ramadan hari ke 23. Selasa, 10 Maret 2026 (22 Ramadhan 1447 H) bertemakan “Keluarga Sakinah: Membangun Harmoni Lewat Komunikasi Spiritual.” Prof. Dr. Hj. Casmini, S.Ag., M.Si. penceramah malam itu, menuturkan bahwa keberhasilan puasa seseorang tercermin dari bagaimana ia berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya. Salah satunya dimulai dari komunikasi dengan keluarga. Komunikasi spiritual merupakan seni berinteraksi yang mengikutsertakan ruh dan kesadaran ketuhanan dalam setiap kata yang terucap. Hal ini menjadi penting karena dalam manifestasi rumah tangga, konflik sering kali muncul bukan karena kurangnya frekuensi komunikasi, melainkan karena hilangnya penghargaan dan empati dalam komunikasi tersebut
puasa seharusnya menjadi momentum untuk melatih ketajaman komunikasi dalam keluarga.
“Puasa tidak sekadar menahan haus dan lapar, tetapi puasa yang kita jalani harus dapat meningkatkan hubungan dengan Allah SWT dan hubungan sesama manusia, salah satunya hubungan dengan keluarga masing-masing.” Jelas Casmini yang merupakan Guru Besar bidang Ilmu Psikologi Umum.
Untuk merealisasikan keharmonisan keluarga, terdapat tujuh kunci utama yang dikemas dalam akronim SAKINAH. Kunci pertama adalah S (Saling Mendengarkan). Dalam aktualitas sosiologis, banyak orang lebih mudah untuk berbicara dan menghakimi daripada duduk diam untuk mendengarkan. Saling mendengarkan yang dimaksud ini mencakup tiga aspek mendalam, yaitu memperhatikan secara menyeluruh, mengerti maksud yang tersirat, dan menghargai eksistensi lawan bicara.
Tanpa telinga yang mau mendengar, sebuah rumah hanya akan berisi keramaian tanpa makna. Kunci berikutnya adalah A (Apresiasi). Tradisi mengapresiasi harus dihidupkan kembali lewat tiga kata sederhana yang dianggap tidak penting namun bermakna besar: “Maaf”, “Terima Kasih”, dan “Tolong”. Apresiasi merupakan pengakuan atas nilai kemanusiaan. Setelah itu, kunci ketiga adalah K (Kendalikan Emosi). Interaksi harian dalam keluarga pastinya dapat memicu terjadinya pertengkaran, tetapi puasa melatih kita untuk tidak membiarkan amarah mengendalikan lisan.
Selanjutnya adalah I (Introspeksi). Dengan selalu mengevaluasi diri sendiri tentunya akan menciptakan perubahan sikap dalam diri, terutama sebelum melontarkan kritik dan menyalahkan orang lain. Berikutnya N (Niatkan Ibadah). Menanamkan niat bahwa membangun rumah tangga merupakan ladang pahala di sisi Allah SWT.
Kemudian, kunci keenam adalah A (Akhlak Mulia) yang menjadi standar perilaku harian dengan mengedepankan sikap ramah, santun, dan lembut. Akhlak yang baik akan melahirkan kenyamanan psikologis bagi pasangan maupun anak-anak. Puncak dari segala ikhtiar tersebut adalah H (Harmoni dalam Doa). Komunikasi spiritual tidak berhenti saat kita selesai berbicara, namun akan tetap berlanjut saat kita berdoa kepada Allah SWT.
Kekuatan doa mampu menciptakan ikatan batin yang tidak terlihat tetapi sangat kuat.
Casmini menekankan bahwa dengan mengimplementasikan formula ini, keluarga tidak hanya menjadi tempat berteduh secara fisik, tetapi dapat bertransformasi menjadi tempat ketenangan spiritual yang menyejukkan. Di tengah dunia yang semakin riuh dan egoistis, komunikasi spiritual merupakan jangkar yang menjaga kapal rumah tangga untuk tetap stabil menuju ketenangan yang hakiki. (Puji).

Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: