YOGYAKARTA, Masjid Walidah Dahlan Unisa- Bulan Ramadhan merupakan momentum spiritual yang tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan untuk memperdalam hubungan dengan Allah SWT dan memperbaiki kualitas diri. Salah satu ibadah utama di sepuluh malam terakhir adalah iktikaf — tindakan berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah. Dalam kajian iktikaf yang digelar di Masjid Walidah Dahlan UNISA pada Sabtu, 14 Maret 2026, Rizki Firmansyah, Lc., M.Hum. mengajak jamaah memahami makna Lailatul Qadar dan menghubungkannya dengan praktik ibadah sehari‑hari.
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, mengatakan iktikaf bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi ruang untuk menjemput Lailatul Qadar — malam yang penuh kemuliaan ketika Al‑Qur’an diturunkan dan malaikat hadir memberikan kedamaian. Lailatul Qadar biasanya terjadi pada malam‑malam terakhir Ramadhan, khususnya antara malam ke‑21 sampai malam ke‑30, sehingga para mukmin dianjurkan memperbanyak ibadah pada waktu tersebut.
Rizki menekankan bahwa keberkahan malam Lailatul Qadar disebut sebagai “malam seribu bulan,” karena amal ibadah yang dilakukan pada malam itu pahala dan manfaatnya dilipatgandakan. Beliau mengingatkan jamaah untuk tidak hanya menjalankan rutinitas, tetapi benar‑benar merenungkan makna setiap amalan yang dilakukan:
“Kadang kita menjalani Ramadhan dengan kebiasaan yang sama setiap tahun tanpa benar‑benar memahami esensinya.”
Selain itu, kajian memfokuskan pada Surah Al‑Fatihah yang disebut ummul Qur’an — induk atau pokok Al‑Qur’an — karena mencakup prinsip tauhid, petunjuk hidup, dan permohonan hidayah. Rizki menjelaskan bahwa banyak orang hanya membaca Surah ini sebagai bacaan tanpa memahami makna terdalamnya. Beliau menegaskan pentingnya bukan hanya menghafal, tetapi memahami dan menghayati setiap ayat:
“Menyebut nama Allah dalam bacaan bukan sekadar ucapan, tetapi membawa keberkahan dan memperkuat pengaruh ruhiyah kita.”
Dalam konteks praktik iktikaf, amalan yang harus diperbanyak:
-
Dzikir dan tasbih,
-
Membaca dan mentadabburi Al‑Qur’an,
-
Sholat sunnah,
-
Sedekah, serta
-
Doa‑doa malam dan pagi.
Ibadah tidak harus sempurna secara formal — misalnya iktikaf tidak harus dilakukan penuh 24 jam — karena ibadah yang dilakukan dengan kesungguhan hati memiliki nilai dan dampak yang besar. Bahkan bagi wanita yang sedang haid, dzikir dan mendengarkan murotal Al‑Qur’an tetap termasuk amalan mulia yang dapat memperkuat hubungan dengan Allah SWT. ujarnya
Beliau, menegaskan bahwa Ramadhan dan iktikaf harus menjadi titik tolak transformasi pribadi, bukan sekadar rutinitas tahunan yang berulang. Ibadah di bulan suci ini tidak seharusnya berhenti setelah Idulfitri, tetapi menjadi awal dari kehidupan yang lebih bertakwa, konsisten dalam kebaikan, serta penuh kesadaran spiritual. Oleh karena itu, beliau mengajak kita untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan yang bermakna, dengan meningkatkan rasa kasih, ketakwaan, dan penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.(Badrun)
Pin itShare
Pin itShare