Yogyakarta – Salat Jumat pada 22 Mei 2026 di Masjid Walidah Dahlan menghadirkan Prof. M. Faris Al Fadhat, S.IP., M.A., Ph.D. sebagai khatib. Dalam khotbahnya, beliau mengangkat tema tentang makna dan rahasia kebahagiaan dalam kehidupan seorang muslim.
Khatib menjelaskan bahwa standar kebahagiaan setiap orang berbeda-beda. Namun, hidup bahagia bukan berarti hidup tanpa cobaan. Bahkan para nabi yang sangat dicintai Allah pun tetap menghadapi ujian kehidupan, seperti Nabi Ayub AS, Nabi Yusuf AS, dan Nabi Muhammad SAW. Karena itu, kebahagiaan bukan ditentukan oleh ada atau tidaknya ujian, melainkan bagaimana manusia mengelola kehidupannya.
Ciri Kebahagiaan Seorang Muslim
Beberapa ulama menjelaskan bahwa kebahagiaan seorang muslim ditandai dengan adanya keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Manusia tidak hanya membutuhkan kecukupan materi, tetapi juga ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah SWT. Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia tidak hanya sibuk memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga menjaga hubungan spiritual dengan Allah.
Khatib menjelaskan bahwa salah satu tanda kebahagiaan adalah hati yang tenang. Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 disebutkan bahwa hati akan menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Hal ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati tidak hanya berasal dari harta, jabatan, ataupun pencapaian duniawi, tetapi dari kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Selain itu, kebahagiaan juga ditandai dengan mulai berkurangnya ketergantungan terhadap urusan duniawi atau yang dikenal dengan sikap zuhud. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan menempatkan dunia pada posisi yang semestinya, yaitu sebagai sarana, bukan tujuan utama kehidupan. Ketika seseorang terlalu bergantung pada dunia, maka ia akan mudah merasa cemas, kecewa, dan gelisah.
Khatib juga menyoroti bahwa banyak kegelisahan manusia muncul karena kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Perbandingan tersebut sering kali membuat seseorang merasa kurang, tidak puas, bahkan kehilangan rasa syukur atas apa yang dimilikinya. Karena itu, kebahagiaan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menjaga hati dan mengendalikan dirinya dari sikap berlebihan terhadap dunia.
Cara Meraih Kebahagiaan
Dalam khotbahnya, Prof. M. Faris Al Fadhat, S.IP., M.A., Ph.D. menyampaikan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meraih kebahagiaan dalam kehidupan.
Pertama, memperkuat iman kepada Allah SWT. Keimanan menjadi fondasi utama dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Dengan iman, seseorang akan memiliki keyakinan bahwa setiap ketentuan Allah mengandung hikmah dan kebaikan. Iman juga menjadi penguat hati ketika menghadapi kesulitan dan ujian kehidupan.
Kedua, membiasakan diri untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah. Dalam Surah Ibrahim ayat 7 Allah menjanjikan akan menambah nikmat bagi hamba yang bersyukur. Rasa syukur tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat. Khatib menjelaskan bahwa salah satu rahasia syukur adalah berbagi kepada sesama melalui sedekah, infak, dan berbagai bentuk kepedulian sosial lainnya. Pada hakikatnya, setiap manusia telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT sehingga tidak perlu terlalu takut ataupun berlebihan dalam menghitung rezeki yang dimiliki.
Ketiga, melatih diri untuk memiliki sikap qanaah atau merasa cukup. Naluri manusia pada dasarnya selalu ingin lebih dan sering kali tidak merasa puas terhadap apa yang dimiliki. Oleh sebab itu, seseorang perlu melatih dirinya agar mampu menerima dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Dengan sikap qanaah, manusia akan lebih mudah berbagi dan tidak terjebak dalam sikap tamak terhadap dunia.
Keempat, terus berusaha dan tidak berhenti berbuat baik. Dalam Surah An-Nahl ayat 97 Allah SWT menjanjikan kehidupan yang baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Amal saleh tidak terbatas pada ibadah ritual saja, tetapi juga mencakup segala bentuk pekerjaan, karya, dan usaha yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain.
Khatib menegaskan bahwa salah satu sifat dasar manusia adalah ingin merasa dibutuhkan dan bermanfaat bagi sesama. Karena itu, kebahagiaan sejati dapat dirasakan ketika seseorang mampu bekerja dengan baik, beramal, serta memberikan manfaat bagi orang lain di sekitarnya.
Di akhir khotbah, jamaah diajak untuk kembali merenungkan apa yang sebenarnya membuat diri merasa bahagia dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang memiliki target dan ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda, namun kehidupan tidak akan pernah lepas dari ujian, tantangan, dan berbagai bentuk cobaan. Allah SWT memberikan ujian kepada manusia untuk melihat tingkat keimanan dan ketakwaannya. Karena itu, seorang muslim dituntut untuk tetap istiqamah, memperkuat rasa syukur, melatih sikap qanaah, serta tidak berhenti melakukan kebaikan dalam kehidupan.
Melalui khotbah ini, jamaah diingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari banyaknya harta atau tingginya pencapaian duniawi, tetapi dari hati yang tenang, kedekatan kepada Allah SWT, serta kemampuan untuk terus memberi manfaat kepada sesama manusia.
Saksikan video lengkap melalui tautan berikut: